Junta Militer Myanmar Setuju Gencatan Senjata

20 hours ago 3
Junta Militer Myanmar Setuju Gencatan Senjata Bangunan yang rusak setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar (29/3/2025).(Xinhua)

JUNTA militer mengumumkan gencatan senjata sementara dalam perang saudara Myanmar untuk memfasilitasi upaya bantuan setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang terjadi Jumat (28/3) lalu dan telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Melalui televisi pemerintah MRTV, Rabu (2/4) malam, para pemimpin militer menyatakan penghentian pertempuran akan berlangsung hingga 22 April mendatang. Mereka ingin menunjukkan belas kasihan bagi orang-orang yang terkena dampak gempa.

Sebelumnya, Pasukan Pertahanan Rakyat (PPR) telah lebih dahulu mengumumkan gencatan senjata awal minggu ini. PPR merupakan sayap bersenjata dari oposisi bayangan Pemerintah Persatuan Nasional, dan Aliansi Tiga Persaudaraan, tiga tentara gerilya etnis minoritas menyatakan gencatan senjata secara sepihak selama satu bulan.

Analis Institut Studi Strategis Internasional, Singapura, Morgan Michaels mengatakan gencatan senjata PPR memberi tekanan pada pemerintah militer untuk melakukan hal yang sama. Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk mengatakan jeda pertempuran akan permanen.

"Diperlukan diplomasi yang sangat cekatan dan aktif untuk mengubah jeda kemanusiaan menjadi sesuatu yang lebih lama. Dan itu tidak dijamin," kata Morgans.

Di sisi lain, Pemerintah Tiongkok meminta pihak-pihak bertikai di Myanmar menghentikan pertikaian dan memberikan kepastian keamanan pasca-tim Palang Merah Tiongkok ditembaki saat membawa pasokan bantuan ke korban gempa. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

Pada Selasa (1/4) malam, militer Myanmar melepaskan tembakan ke konvoi Palang Merah Tiongkok yang membawa pasokan bantuan gempa saat berada di kota Naung Cho, dalam perjalanan menuju pusat kota Mandalay, kota dekat episentrum gempa.

"Kami juga berharap agar semua kelompok etnis dan faksi di Myanmar dapat menjadikan bantuan bencana sebagai tugas utama, memastikan keselamatan dan keamanan penyelamat dan pasokan dari Tiongkok dan negara-negara lain, serta menjaga koridor logistik tetap dapat diakses sepenuhnya," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (2/4).

Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), kelompok pemberontak bersenjata, mengatakan pasukan militer menembaki konvoi sembilan kendaraan dengan senapan mesin. Namun, Junta militer membantah telah menembak langsung ke kendaraan tersebut.

Bantuan Indonesia
Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa yang melanda Myanmar. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menjadi pimpinan misi kemanusiaan akan menyampaikan bantuan ke Myanmar.

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan total bantuan 64 ton dari swasta dan 60 ton total bantuan pemerintah RI. Adapun secara keseluruhan total bantuan sebesar 124 ton atau senilai USD1,2 juta.

Sekitar 20 ton sudah di Myanmar. Personel SAR dan EMT yang diterjunkan 157 orang, di antaranya 69 orang berangkat dengan kloter ke-3 hari ini. Dalam misi ini, turut serta jajaran pejabat dari BNPB, Kemenlu, Kemenko PMK, BASARNAS, dan BAZNAS.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan bahwa pengiriman bantuan ini merupakan bentuk solidaritas rakyat Indonesia kepada rakyat Myanmar yang terdampak gempa bumi pada 28 Maret lalu.  

“Pemerintah Indonesia berharap bantuan berisi obat-obatan, alat sanitasi, dan kebutuhan pokok dari masyarakat Indonesia tersebut dapat membantu meringankan beban penderitaan rakyat Myanmar yang terdampak,” kata Menlu Sugiono dalam keterangan resmi, Kamis (3/4/2025).

Sugiono menambahkan berdasarkan pemantauan dan laporan yang disampaikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon, Myanmar, hingga saat ini belum ada laporan soal korban WNI. “Kita harap seluruh Warga Negara Indonesia yang ada di sana dalam kondisi yang baik,” ujar dia.

Ia memastikan distribusi bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Indonesia untuk rakyat Myanmar terdampak gempa bumi via jalur udara berjalan lancar. Hal itu ia sampaikan menanggapi insiden penembakan yang dialami Palang Merah Tiongkok.

"Kita berkoordinasi dengan sangat baik dengan seluruh Menteri Luar Negeri ASEAN. Jadi, hambatan komunikasi tidak, karena kita sama-sama ASEAN dan kita menyampaikan bahwa mereka membutuhkan pertolongan dan bantuan," ucap dia.

Sebelumnya, pada Senin (1/4), Indonesia telah mengirimkan bantuan yang disertai dengan pengerahan 61 petugas INASAR. Pemerintah Myanmar telah meminta bantuan kepada masyarakat internasional, termasuk Pemerintah Indonesia, untuk membantu penanggulangan bencana alam akibat gempa bumi pada 28 Maret 2025. (I-1)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |