Kondisi Rumah Radio Bung Tomo Kini: Berubah Total Nyaris Tanpa Jejak

1 hour ago 2

Surabaya, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto mengaku prihatin pada situs-situs bersejarah yang kurang dihormati dan dibongkar. Salah satunya Rumah Radio Bung Tomo, di Surabaya, Jawa Timur.

Hal itu dikatakan Prabowo saat menyampaikan taklimat dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2).

"Saya mau tanya di mana stasiun RRI (Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia/RBPRI) yang digunakan oleh Bung Tomo waktu pertempuran 10 November [1945] apakah masih ada?," kata Prabowo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prabowo mempertanyakan keberadaan situs bersejarah yang sangat penting bagi perjuangan kemerdekaan, khususnya di Surabaya tersebut.

"Kadang-kadang kita tidak menghormati sejarah kita, situs-situs bersejarah dibongkar, ini kepala daerah harus memikirkan," ucapnya.

Rumah Radio Bung Tomo merupakan situs yang memiliki nilai penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Terletak di Jalan Mawar No 10-12, bangunan ini pernah menjadi tempat siaran pejuang Sutomo atau Bung Tomo saat membakar semangat perlawanan Arek-arek Suroboyo kepada sekutu selama revolusi kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal seorang pejuang bernama Amin. Karena itu bangunan tersebut teregistrasi sebagai cagar budaya bernama Rumah Tinggal Pak Amin dengan latar belakang Tempat Kedudukan RBPRI Bung Tomo sebagaimana SK Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996.

Namun, jejak rumah tersebut sudah hilang dan berubah total. Di atas tanahnya kini berdiri bangunan rumah mewah nan megah berwarna putih. Halamannya luas dikelilingi tanaman, tembok hingga pagar setinggi 3-4 meter.

Ketua RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalsari, Nuning Muji Asih mengonfirmasi bangunan di Jalan Mawar No 10 itu dulunya adalah Rumah Radio Bung Tomo. Namun bangunan aslinya sudah dirobohkan dan diganti dengan gedung baru.

"Wilayahnya di sebelah sana persis yang nomor 10, rumah radio Bung Tomo," kata Nuning saat ditemui CNNIndonesia.com.

Nuning menjelaskan rumah itu mulanya milik seseorang bernama Amin Hadi pada periode 1935. Saat pemiliknya meninggal, rumah di Jalan Mawar No 10-12 itu dijual oleh ahli waris kepada pihak PT Jayanata Kosmetika Prima.

"Yang punya itu Bapak Amin Hadi, lalu Bapak Amin Hadi meninggal yang menempati di sini putrinya. Terus orang tua sudah enggak ada, ini dijual kan, yang nomor 10 atas nama adiknya, yang nomor 12 kakaknya. Ini yang nomor 10 yang dibeli Jayanata itu, yang rumah radio Bung Tomo," ucapnya.

Nuning mengaku dirinya tidak tahu-menahu soal pembongkaran rumah Radio Bung Tomo. Sebab kala itu ia belum menjabat sebagai Ketua RT. Menurutnya, peristiwa perobohan cagar budaya itu terjadi saat masa kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Waduh kalau tahunnya lupa ya saya. Masih zaman [kepemimpinan] Bu Risma," ujarnya.

Nuning mengaku tahu status bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Tapi ia tidak mengerti persis bagaimana rumah itu bisa dirobohkan dan lahannya bisa berpindah kepemilikan.

Proses pembangunan rumah baru di lahan bekas Rumah Radio Bung Tomo itu sendiri berjalan empat tahun lebih, dan baru rampung tahun 2025 lalu. Ia sendiri tak pernah bertemu pemilik barunya yang disebutnya sebagai pihak Jayanata.

"Kosong kayaknya. Enggak pernah buka. Soalnya ya tidak pernah kelihatan dibuka. Saya masuk ke sana itu waktu pembangunan aja, lihat ke dalam. Kalau jadinya baru-baru aja, belum setahun, belum jadi RT saya. Masih proses. [Pembangunan] empat tahun lebih. Setahu saya itu aja," ucapnya.

(fra/frd/fra)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |