Gedung Putih Bungkam Perihal Pemecatan Kepala Badan Keamanan Nasional Timothy Haugh

10 hours ago 3
Gedung Putih Bungkam Perihal Pemecatan Kepala Badan Keamanan Nasional Timothy Haugh Direktur Badan Keamanan Nasional (NSA), Timothy Haugh, adalah korban terbaru dari perombakan angkatan bersenjata dan badan keamanan AS oleh Presiden Trump.(UPI Photo/Imago)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba memecat Direktur Badan Keamanan Nasional (NSA) Timothy Haugh, menurut pejabat AS dan anggota Kongres. Namun sejauh ini baik Gedung Putih maupun Pentagon tidak memberikan alasan apa pun atas tindakan tersebut.

“Para pemimpin militer senior diberitahu pada Kamis perihal pemecatan Jenderal Angkatan Udara Tim Haugh, yang juga mengawasi Komando Siber Pentagon,” kata para pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, sebagaimana dilansir Deutsche Welle, Minggu (5/4). 

Mereka mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya tentang keputusan untuk memberhentikan seorang jenderal bintang empat dengan karier 33 tahun dalam operasi intelijen dan siber.

Tindakan pemecatan tersebut telah memicu kritik tajam dari anggota Kongres dan tuntutan untuk penjelasan segera. Hal ini menandai pemecatan terbaru pejabat keamanan nasional oleh Trump pada saat pemerintahan Republiknya menghadapi kritik karena tidak mengambil tindakan apa pun atas kebocoran rencana serangan AS ke Yaman.

Wakil Haugh di NSA, Wendy Noble, juga dipecat. Sebelumnya, media AS melaporkan bahwa sekitar enam staf Dewan Keamanan Nasional (NSC) dipecat, sementara yang lain dipindahkan, menyusul pertemuan antara Trump dan penganut teori konspirasi sayap kanan Laura Looma.

Gedung Putih tidak merespons pesan permintaan komentar. Sementara NSA merujuk pertanyaan tentang Haugh ke Departemen Pertahanan. Pentagon tidak menanggapi pertanyaan tentang mengapa ia dipecat atau memberikan rincian lainnya.

Sean Parnell, juru bicara utama Pentagon, hanya mengatakan, dalam sebuah pernyataan, bahwa departemen berterima kasih kepada Haugh, "Atas pengabdiannya selama puluhan tahun bagi negara kita, yang berpuncak pada jabatan sebagai Komandan Komando Siber AS dan Direktur Badan Keamanan Nasional. Kami mendoakan yang terbaik untuknya dan keluarganya."

Yang tampil memberikan statemen malah Laura Loomer. Dalam sebuah posting di X, ia mengaku dirinya menyampaikan kekhawatiran kepada Trump tentang hubungan Haugh dengan Jenderal Mark Milley dan pemerintahan Joe Biden dan mempertanyakan kesetiaan sang kepala NSA kepada Presiden. Milley menjabat sebagai Kepala Staf Gabungan selama masa jabatan pertama Trump tetapi sejak itu menjadi kritikus yang blak-blakan.

‘Mengingat fakta bahwa NSA bisa dibilang merupakan badan intelijen paling kuat di dunia, kita tidak dapat membiarkan calon Biden memegang posisi itu,' tulis Loomer. 'Terima kasih Presiden Trump karena telah menerima materi pemeriksaan yang diberikan kepada Anda dan terima kasih telah memecat orang-orang Biden yang tersisa ini.’

Tidak jelas apa yang dimaksud Loomer tentang hubungan Haugh dengan Milley--yang bertugas di Angkatan Darat. Milley pensiun pada September 2023, beberapa bulan sebelum Haugh mengambil alih NSA.

Anggota DPR Jim Himes, anggota senior Komite Intelijen DPR, mengirim surat kepada Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menanyakan alasan pemecatan Haugh dan Noble.

“Laporan publik menunjukkan bahwa pemecatan pejabat tersebut didorong oleh tokoh media sosial yang tidak dikenal, yang merupakan pelanggaran yang sangat meresahkan terhadap norma-norma yang melindungi aparat keamanan nasional kita dari tekanan politik dan teori konspirasi,” kata Himes dalam suratnya.

Trump belum mengomentari soal Haugh atau Noble, tetapi pada Kamis ia menganggap pemecatan Dewan Keamanan Nasional sebagai hal yang biasa.

"Kita selalu memecat orang," kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One saat ia menuju Miami pada Kamis sore. "Orang-orang yang tidak kita sukai atau orang-orang yang kita pikir tidak dapat menjalankan pekerjaan atau orang-orang yang mungkin memiliki kesetiaan kepada orang lain."

Pemecatan tersebut terjadi saat penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz, melawan seruan agar ia dicopot setelah menggunakan aplikasi Signal dalam membahas perencanaan operasi militer sensitif terhadap kelompok Houthi di Yaman. Rencana militer tersebut kemudian bocor ke Pemimpin Redaksi The Atlantic Jeffrey Goldberg. (DW/AP/B-3)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |