AS Tuduh China Diam-diam Uji Coba Ledakan Nuklir

3 hours ago 3

loading...

Amerika Serikat menuduh China diam-diam telah menguji coba ledakan nuklir. Foto/Global Times

WASHINGTON - Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional Thomas G DiNanno menuduh China telah melakukan uji coba ledakan nuklir secara diam-diam menggunakan sebuah metode untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik. Menurutnya, uji coba itu berlangsung pada 22 Juni 2020.

Itu terjadi hanya seminggu setelah konfrontasi tentara China dan India di perbatasan Galwan. Dalam konfrontasi berdarah itu, 20 tentara India dilaporkan tewas, sedangkan di pihak China lebih dari 30 tentara dilaporkan tewas.

"Saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah AS mengetahui China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk mempersiapkan uji coba dengan daya ledak yang ditetapkan dalam ratusan ton," kata DiNanno dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa pada hari Jumat, yang dilansir Reuters, Minggu (8/2/2026).

Baca Juga: Perjanjian New START dengan AS Berakhir, Rusia Bisa Sesuka Hati Kerahkan Senjata Nuklir

"Militer China berupaya menyembunyikan pengujian dengan mengaburkan ledakan nuklir karena mereka menyadari bahwa uji coba ini melanggar komitmen larangan uji coba. China telah menggunakan 'decoupling', sebuah metode untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik, untuk menyembunyikan aktivitas mereka dari dunia," lanjut dia.

Presiden AS Donald Trump pada bulan Oktober memerintahkan militer AS untuk segera melanjutkan proses pengujian senjata nuklir, dengan mengatakan bahwa negara-negara lain juga melakukannya tetapi tanpa memberikan detail atau mengidentifikasi mereka.

Duta Besar China untuk perlucutan senjata, Shen Jian, tidak secara langsung menanggapi tuduhan DiNanno tetapi mengatakan Beijing selalu bertindak dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam masalah nuklir.

"China mencatat bahwa AS terus menggembar-gemborkan apa yang disebut ancaman nuklir China dalam pernyataannya. China dengan tegas menentang narasi palsu tersebut," katanya. "AS adalah penyebab meningkatnya perlombaan senjata."

Para diplomat di Konferensi Perlucutan Senjata mengatakan tuduhan AS itu baru dan mengkhawatirkan. China, seperti AS, telah menandatangani tetapi belum meratifikasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT), yang melarang uji coba nuklir eksplosif. Rusia telah menandatangani dan meratifikasinya, tetapi menarik ratifikasinya pada tahun 2023.

Robert Floyd, kepala badan pengatur perjanjian yang berbasis di Wina, mengatakan sistem pemantauan internasional badan tersebut tidak mendeteksi peristiwa apa pun yang konsisten dengan karakteristik ledakan uji coba senjata nuklir pada saat dugaan uji coba ledakan nuklir China seperti yang dituduhkan AS. Analisis lebih rinci selanjutnya, kata Floyd, tidak mengubah penentuan tersebut.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |