Mengukur Kerentanan Akibat Penutupan Selat Hormuz dan Kapasitas Mitigasi

2 hours ago 3

loading...

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia dan Principal Nenggala Research. Foto/Dok.SindoNews

Broto Wardoyo
Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia
Principal Nenggala Research

BAGI pelaku usaha, krisis di Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik yang mengguncang Timur Tengah. Krisis tersebut adalah risiko ekonomi yang sangat konkret. Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi dunia melewati selat sempit ini sehingga setiap gangguan di sana hampir selalu diterjemahkan pasar sebagai lonjakan harga energi global.

Bagi dunia usaha, dari manufaktur hingga logistik, hal ini artinya sederhana: biaya produksi naik, rantai pasok terganggu, dan tekanan terhadap harga domestik meningkat. Selat Hormuz merupakan salah satu titik cekik (chokepoint) energi paling kritis dalam sistem ekonomi global. Sekitar 20–21 juta barel minyak per hari, atau hampir 20% konsumsi minyak dunia, melewati jalur ini (EIA, 2024). Sekitar 85% aliran minyak tersebut menuju pasar Asia dan menjadikan kawasan ini tujuan utama ekspor energi dari Teluk Persia (EIA, 2024).

Empat ekonomi besar Asia, China, India, Jepang, dan Korea Selatan, menyerap sekitar 70–75% dari total minyak yang melewati Selat Hormuz (EIA, 2024). Dengan konfigurasi seperti ini, setiap gangguan serius di jalur tersebut akan berfungsi sebagai goncangan (shock) energi bagi ekonomi Asia.

Kerentanan negara-negara Asia terhadap gangguan di Selat Hormuz tidak seragam. Jepang dan Korea Selatan berada pada kategori paling rentan karena ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah sangat tinggi. Sekitar 90–95% impor minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut, dengan sekitar 70% pasokan, sekitar 1.9–2.1 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz (EIA, 2024).

Korea Selatan memiliki struktur yang hampir serupa, dimana sekitar 70% impor minyaknya berasal dari Timur Tengah, dengan sebagian besar pasokan juga melalui jalur yang sama (EIA, 2024). China dan India menghadapi kerentanan dari dimensi yang berbeda, yaitu skala konsumsi energi industri yang sangat besar.

China menyerap sekitar 37–38% dari total aliran minyak yang melewati Hormuz, sementara India sekitar 14–15% (EIA, 2024). Kombinasi antara ketergantungan impor yang tinggi dan struktur ekonomi yang sangat energi-intensif membuat empat ekonomi Asia ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan di jalur energi paling strategis di dunia.

Kerentanan tersebut tidak hanya ditentukan oleh ketergantungan impor, tetapi juga oleh kapasitas mitigasi energi, terutama melalui strategic petroleum reserves (SPR). Jepang, Korea Selatan, dan China memiliki cadangan strategis yang relatif besar, di atas 200 hari konsumsi minyak, sementara India sekitar 70an hari (Khan, 2026).

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |