Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

10 hours ago 5

loading...

Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI.

Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI.

Kalau membeli beras di pengecer di pasar tradisional, Anda akan berhadapan dengan aneka macam beras. Namanya bermacam-macam. Ada yang bermerek, ada yang tidak. Yang tidak bermerek biasanya dijual curah. Harganya pun berbeda-beda. Demikian pula kualitasnya. Hal serupa kembali Anda temukan ketika membeli beras di toko kelontong atau warung sebelah rumah. Meskipun aneka macamnya lebih sedikit. Artinya, di pasar itu ada aneka macam beras dengan beragam kualitas dan harga berbeda-beda.

Di retail modern kondisinya berbeda. Secara umum beras yang dijual di retail modern ada tiga: medium, premium, dan beras khusus. Beras medium relatif sulit ditemukan. Kalau pun ada adalah cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola BULOG. Namanya beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Beras premium dan beras khusus tersedia dalam aneka merek. Beras khusus ada aneka macam, antara lain beras ketan, beras merah, beras hitam, beras varietas lokal, beras fortifikasi dan beras organik.

Pendek kata, di pasar tersedia beras multikualitas. Mengapa? Ini terkait preferensi konsumen yang berubah beberapa tahun terakhir. Perubahan terjadi seiring lonjakan urbanisasi, partisipasi kerja perempuan di ruang publik, tumbuhnya pendapatan masyarakat, dan menurunnya jumlah penduduk miskin. Ditambah menjamurnya pasar formal, terutama minimarket, supermarket, dan hipermarket yang mengepung permukiman, di desa dan di kota, telah mempercepat perubahan preferensi tersebut.

Kajian PERHEPI pada 2016 menunjukkan beras telah berubah dari komoditas yang seragam menjadi produk beragam. Keberagaman beras ditentukan oleh atribut yang melekat: bentuk, warna, rasa, jenis, dan merek. Konsumen berpendapatan tinggi ketika memilih beras mempertimbangkan: bentuk beras/ utuh panjang (62%), warna putih (81%), rasa pulen (76%), dan bermerek (61%). Sebaliknya, konsumen berpendatan rendah lebih memperhatikan warna putih daripada rasa pulen, atau merek dagang.

Untuk mendapatkan beras, konsumen berpendapatan tinggi lebih dominan membeli di minimarket (38%) dan supermarket (33%). Beras yang dibeli dalam kemasan (86%) dan dalam volume 5 kg (63%). Konsumen berpendapatan tinggi akan mengurangi jumlah beras yang dibeli kalau harga naik mencapai 22% atau mengganti dengan jenis lain kalau harga naik 16%. Sebaliknya, konsumen berpendapatan rendah akan mengurangi jumlah pembelian beras jika harga naik 17% dan mengganti jenis/merek lain jika naik 10%.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |