Sejumlah Desa di Selayar Sempat Terendam Air Laut Usai Gempa NTT

6 hours ago 6

Makassar, CNN Indonesia --

Tsunami kecil sempat terjadi di sejumlah titik pascagempa utama M 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) pagi. Salah satunya di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sejumlah rumah warga yang berada di pulau terluar dari Kabupaten Kepulauan Selayar itu, terendam air laut pascagempa bumi tersebut. Sebelumnya, BMKG memang sudah mengirimkan peringatan dini tsunami pascagempa.

"Iya, ada laporan camat, ada tsunami kecil di Selayar. Ada beberapa desa yang airnya masuk sampai ke perkampungan," kata Kepala BPBD Selayar, Ahmad Aliefyanto kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (15/8)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alief menyebut kondisi serupa antara lain dirasakan warga di wilayah Marege. Meski air laut sempat masuk ke kawasan permukiman, situasi secara keseluruhan masih dinilai relatif aman.

"Mayoritas di Pulau Jampea karena langsung berbatasan dengan laut. Mereka merasakan itu, tapi masih relatif aman untuk kita di Selayar," ujarnya.

BPBD Selayar kemudian melakukan koordinasi dengan para camat untuk memastikan kondisi masyarakat serta mengecek kemungkinan adanya korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa.

"Dari laporan awal yang diterima BPBD, hampir seluruh wilayah melaporkan tidak adanya korban jiwa maupun kerusakan material yang berarti," jelasnya.

Meski demikian, kata Alief, warga yang berada di Pulau Takabonerate sempat mengungsi ke dataran yang lebih tinggi saat air laut tiba-tiba surut usai gempa terjadi.

"Getarannya yang terasa itu hanya satu kali. Tapi karena masyarakat kita, khususnya yang pernah mengalami trauma, sehingga panik semua, lari naik ke gunung," jelasnya.

Peringatan dini tsunami pascagempa NTT itu sendiri telah dinyatakan berakhir oleh BMKG. Gempa utama berkekuatan M 7,7 itu terjadi pada pukul 04.58 WIB.

Saat itu, BMKG mencatat bahwa pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami. Oleh karena itu, peringatan dini tsunami pun sempat diumumkan kepada warga berpotensi terdampak.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan BMKG mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.

"BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak," kata Nelly dalam konferensi pers di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu siang.

Dia menerangkan Stasiun Pemantauan BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di sepuluh titik pesisir

Rinciannya adalah Sikka dengan Ketinggian 0,20 meter (pukul 05.03 WIB); Pelabuhan Kewapante-Sikka dengan Ketinggian 0,38 meter (pukul 05.16 WIB); Flores Timur dengan Ketinggian 0,25 meter (pukul 05.24 WIB); Labuan Bajo dengan Ketinggian 0,36 meter (pukul 05.26 WIB); dan Maurole-Ende dengan Ketinggian 0,94 meter (pukul 05.27 WIB).

Kemudian Dompu dengan Ketinggian 0,17 meter (pukul 05.29 WIB); Bakalang-Alor dengan Ketinggian 0,14 meter (pukul 05.41 WIB); Baubau dengan Ketinggian 0,30 meter (pukul 05.47 WIB); Bulukumba dengan Ketinggian 0,54 meter (pukul 05.58 WIB); dan Kolaka dengan Ketinggian 0,23 meter (pukul 06.27 WIB)

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mendeteksi sebanyak 37 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan rentang magnitudo M3,6 hingga M6,2.

Dalam keterangan yang sama, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton SP. Panjaitan, menyampaikan bahwa prioritas utama BNPB saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat serta mencegah adanya korban tambahan dari bahaya pascagempa.

"Data terbaru yang masuk mengonfirmasi ada dua orang yang meninggal dunia. Informasi ini terus kami pantau dan verifikasi bersama BMKG, BPBD, Pemda, serta unsur terkait agar dapat mengeluarkan data resmi mengenai total kerusakan dan korban jiwa," ujar Berton.

(mir/kid)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |