loading...
Rakyat AS tak akan pernah melupakan tragedi serangan 11 Septembe. Foto/X/@scorbunnydream
NEW YORK - Dua puluh lima tahun setelah peristiwa 9/11, para presiden AS—baik yang terdahulu maupun yang sedang menjabat—memperingati mereka yang kehilangan nyawa ketika pesawat yang dibajak menabrak World Trade Center, Pentagon, dan sebuah lapangan di Pennsylvania.
Presiden Donald Trump memimpin upacara di Pentagon, sementara Wakil Presiden AS JD Vance menghadiri acara peringatan di lokasi World Trade Center di New York, bersama dengan keempat mantan presiden AS dan ibu negara yang masih hidup.
Momen mengheningkan cipta dilakukan untuk menandai waktu terjadinya serangan, dan nama-nama dari hampir 3.000 korban jiwa dibacakan.
Dua berkas cahaya menerangi langit Manhattan dalam acara Tribute in Light pada Jumat malam, sementara berbagai landmark lain di negara bagian tersebut menyalakan lampu berwarna biru sebagai bentuk peringatan.
Seluruh mantan presiden AS yang masih hidup menghadiri acara peringatan di Kota New York.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick kehilangan saudaranya, Gary, dan beberapa rekan kerjanya dalam serangan tersebut.
George W. Bush, yang menjabat sebagai presiden saat serangan terjadi, didampingi oleh mantan presiden Joe Biden, Barack Obama, dan Bill Clinton dalam upacara hari Jumat di lokasi World Trade Center.
Di Pentagon, Presiden Trump menghadiri acara peringatan bersama para menteri kabinet dan Condoleezza Rice, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional saat peristiwa 9/11 terjadi.
"Hari ini kita memperbarui sumpah suci yang pertama kali kita ucapkan atas nama mereka seperempat abad yang lalu," ujar Trump. "Kita tidak akan pernah melupakannya. Itulah sebabnya kita berjuang hari ini."
Ia berupaya mengaitkan "perang melawan teror" yang menyusul peristiwa 9/11—yang memicu keterlibatan AS selama bertahun-tahun dalam perang di Timur Tengah—dengan konflik yang sedang dihadapinya saat ini terkait Iran.
Trump mengatakan kepada hadirin bahwa Republik Islam tersebut "tidak akan pernah memiliki senjata nuklir".


















































