
PAKAR transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan arus lalu lintas pada arus mudik Lebaran 2025 secara umum relatif lancar karena ditopang oleh skema lalu lintas berupa one way dan contraflow terpantau telah dioptimalkan. Akan tetapi, Ia mengingatkan bahwa skema tersebut tidak bisa menjadi solusi utama untuk mengurai penumpukan kendaraan yang relatif panjang.
“Kebijakan contra flow dan one way memang bagus tetapi untuk ke depan, sistem itu tidak bisa menjadi solusi untuk selamanya karena jika pemudik membludak, pada akhirnya mudik akan rentan terhadap kemacetan,” kata Djoko kepada Media Indonesia pada Selasa (1/4).
Djoko menyampaikan bahwa solusi jangka panjang untuk menciptakan arus lalu lintas yang lancar dan aman bagi para pemudik adalah dengan menggalakkan kembali menggunakan transportasi umum seperti bus hingga kereta.
“Justru pemerintah harus kembali mendorong pemudik untuk menggunakan angkutan umum seperti kereta, kapal hingga bus. Perbaiki juga tata kelola logistik kendaraan umum yang akan digunakan para pemudik. Ini tentu akan lebih efisien dan membuat pemudik tidak kelelahan sehingga menurunkan tingkat kecelakaan,” jelasnya.
Selain itu, Djoko menilai adanya fenomena mudik gratis yang semakin meningkat secara langsung telah membantu mengurangi jumlah pergerakan orang atau pemudik di jalan. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang turut mendukung alasan mudik gratis tersebut berkontribusi pada kelancaran arus mudik Lebaran 2025 ini.
“Mudik gratis itu sangat membantu. Tahun ini, Pemprov Jakarta dan Jawa Tengah menyediakan mudik gratis yang jumlahnya mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Biasanya dulu setiap kabupaten/kota disediakan dua bus. Tapi tahun ini ditambah sebanyak puluhan bus yang yang jumlahnya mencapai 289,” tukasnya.
Menurut Djoko, mudik gratis juga akan mengurangi kepadatan kendaraan pribadi. Sebab, umumnya program mudik gratis menggunakan bus dan kereta api yang akan mengurangi jumlah pemudik menggunakan kendaraan pribadi.
“Mudik-mudik gratis seperti ini harus diperbanyak namun juga disesuaikan dengan kondisi keuangan pemda untuk mengantisipasi tingkat kelelahan yang menyebabkan kecelakaan. Tak hanya mudik gratis lintas provinsi, namun juga bisa dilakukan lintas pulau,” ujarnya.
Persingkat masa tunggu di pelabuhan
Lebih lanjut, Djoko juga menghimbau pemerintah untuk memperbaiki fasilitas dermaga di berbagai pelabuhan agar dapat mengurangi waktu tunggu angkut menjadi lebih cepat.
“Di Pelabuhan Merak, Bakauheni itu ada sistem kolam pelabuhan yaitu perairan di depan dermaga yang digunakan untuk sandar dan olah gerak kapal. Kolam pelabuhan juga berfungsi untuk bongkar muat, mengisi perbekalan, dan terlindung dari ombak. Ini harus diperbaiki dan ditambah,” katanya.
Djoko meebut kepadatan volume kendaraan di Pelabuhan Merak, Banten yang meningkat signifikan beberapa waktu lalu menyebabkan penumpang harus menunggu antrian untuk memasukkan kendaraan ke dalam kapal kurang lebih 5 jam.
“Salah satu yang membuat antrian itu adalah sistem kapal yang bersandar itu dilakukan satu per satu, seharusnya bisa dilakukan sekaligus dua hingga tiga kapal. Dengan adanya kolam pelabuhan yang memadai, kapal bisa bersandar lebih tenang tanpa terganggu ombak, sehingga akan lebih banyak kapal yang bisa bersandar,” tegasnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor penyebab antrean panjang pengangkutan kendaraan di pelabuhan seperti peningkatan jumlah pemudik, kurang memadainya fasilitas seperti dermaga atau jembatan, kapasitas parkir yang terbatas, hingga proses bongkar muat yang lambat.
“Sistem pengangkutan kendaraan di pelabuhan harusnya dinamis. Dinamis artinya, pemerintah seharusnya bisa mengatur waktu dalam pengangkutan, seharusnya saat kondisi merak itu belum begitu padat, sebagian barang yang sudah ada seharusnya diangkut masuk saja. Selain Itu, kuantitas kapal itu juga masih kurang, harusnya ada tambahan dua kapal yang dikeluarkan,” pungkasnya. (Dev/P-3)