loading...
KSOP Utama Tanjung Priok menginisiasi Joint Exercise Business Continuity Management System (BCMS) Tumpahan Minyak. Foto/istimewa
JAKARTA - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok menginisiasi Joint Exercise Business Continuity Management System (BCMS) Tumpahan Minyak. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 30 stakeholders strategis pelabuhan dalam satu sistem penanganan krisis terintegrasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Kegiatan ini menjadi inisiatif port-wide integrated BCMS pertama di Indonesia yang mengintegrasikan regulator, operator terminal petikemas internasional, terminal energi, terminal multipurpose, fasilitas logistik, serta berbagai instansi pemerintah dalam satu kerangka Business Continuity Management System berbasis ekosistem pelabuhan.
Latihan bersama tersebut dilaksanakan melalui skenario tabrakan kapal akibat engine failure yang memicu pencemaran minyak di kolam pelabuhan dan menguji kesiapan seluruh stakeholders dalam menjaga keberlangsungan operasional pelabuhan nasional saat kondisi darurat.
Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia dengan throughput mencapai sekitar 7,6–8,3 juta TEUs per tahun dan menangani lebih dari separuh arus petikemas internasional Indonesia. Posisi strategis tersebut menjadikan Tanjung Priok sebagai simpul utama rantai pasok nasional sekaligus salah satu gerbang perdagangan internasional terpenting Indonesia.
Baca juga: Lebaran 2026, IPC TPK Pelabuhan Tanjung Priok Beroperasi 24 Jam
Gangguan operasional berkepanjangan di Pelabuhan Tanjung Priok berpotensi mempengaruhi distribusi logistik nasional, aktivitas ekspor-impor, distribusi energi dan pangan, hingga rantai pasok industri nasional dan konektivitas perdagangan internasional Indonesia.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, mengatakan penguatan sistem keberlangsungan operasional pelabuhan menjadi kebutuhan strategis di tengah meningkatnya kompleksitas risiko geopolitik, gangguan rantai pasok global, serta ancaman kedaruratan pelabuhan modern.
“Sebagai regulator, peran kami bukan hanya menetapkan aturan, tetapi memastikan seluruh ekosistem pelabuhan bergerak dalam satu irama ketika krisis terjadi. BCMS ini merupakan wujud nyata fungsi KSOP sebagai orkestrator yang mengintegrasikan seluruh stakeholder agar respons kedaruratan dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan terkoordinasi dengan struktur komando yang jelas,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

















































