Keracunan MBG Sidoardjo, Hasil Lab Positif Terkontaminasi Bakteri

4 hours ago 3

Surabaya, CNN Indonesia --

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya selesai.

Hasilnya dari belasan parameter yang diperiksa, satu sampel dinyatakan positif terkontaminasi bakteri.

Kasus keracunan itu sebelumnya menimpa 748 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka mengalami gejala keracunan massal usai mengonsumsi MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.

Plh Sekda Sidoarjo yang juga menjabat Ketua Satgas MBG Sidoarjo, M Ainur Rahman, membenarkan temuan tersebut. Ia mengatakan hasil laboratorium itu sudah dilaporkan kepada Bupati Sidoarjo.

"Hasil lab sudah keluar dan sudah dilaporkan kepada Bupati. Dari beberapa sampel yang diperiksa, ada yang negatif dan ada satu yang positif terkontaminasi," kata Ainur kepada jurnalis, Jumat (11/9).

Ainur belum bersedia mengungkap jenis bakteri maupun jenis sampel makanan yang dinyatakan positif tersebut. Ia menyebut rincian teknis hasil pemeriksaan akan disampaikan oleh pihak berwenang, termasuk Dinas Kesehatan.

Meski satu sampel dinyatakan positif bakteri, Ainur menegaskan hal itu belum bisa memastikan bahwa penyebab keracunan murni berasal dari faktor makanan. Pemerintah daerah disebut masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui sumber kontaminasi.

"Belum bisa dipastikan apakah murni dari faktor makanan. Bisa banyak faktor, bisa dari air, bahan baku makanan, maupun kebersihan lingkungan," ujarnya.

Hasil laboratorium tersebut juga telah diserahkan kepada pihak kepolisian sebagai bahan pendukung penyelidikan. Polres Sidoarjo rencananya akan menyandingkan hasil uji laboratorium milik Pemkab dengan hasil pemeriksaan forensik yang dilakukan kepolisian.

"Ini sudah diserahkan ke Polres untuk disandingkan dengan hasil pemeriksaan forensik. Kita lihat nanti apakah ini karena kelalaian, ketidakpatuhan terhadap prosedur, atau ada unsur lainnya," jelasnya.

Pascakejadian, dapur SPPG Kalitengah yang menyuplai makanan untuk para santri dihentikan sementara dan tidak lagi beroperasi. Para santri untuk sementara waktu mendapatkan makanan dari dapur pondok masing-masing, sementara penyaluran MBG untuk 18 sekolah terdampak ditahan.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menawarkan opsi pengalihan penyaluran makanan ke SPPG lain, namun Pemkab Sidoarjo masih membahas tawaran tersebut.

Ainur menegaskan Pemkab Sidoarjo tidak mengambil langkah menghentikan program MBG secara keseluruhan. Pemerintah daerah disebut tetap mendukung program itu, namun meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, sanitasi, dan pengawasan di lapangan.

Pemkab Sidoarjo turut mencatat masih ada 21 SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kondisi ini menjadi salah satu sorotan serius dalam evaluasi pelaksanaan MBG di daerah tersebut.

Menurut Ainur, kewenangan penerbitan SLHS berada di tangan pemerintah daerah, sementara izin operasional SPPG merupakan kewenangan BGN.

"Daerah hanya bisa mengusulkan, izin operasi ada di BGN. Ada 21 SPPG yang belum punya sertifikat higienis tetapi masih berjalan karena izin operasionalnya dari BGN," katanya.

Pemkab Sidoarjo telah mengusulkan agar SPPG yang belum memenuhi persyaratan SLHS dihentikan sementara hingga persyaratan tersebut terpenuhi. Pengawasan di lapangan juga akan diperkuat dengan melibatkan kepala puskesmas, camat, hingga kepala desa.

"Yang belum layak jangan dioperasikan. Kita tetap mendukung program MBG, tetapi protokol dan pengawasannya harus diperbaiki. SOP jangan hanya ada di atas kertas, tapi harus benar-benar dijalankan di lapangan," kata Ainur.

Saat ini, Pemkab Sidoarjo masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari kepolisian untuk memastikan penyebab pasti kasus keracunan massal tersebut.

Sebelumnya, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Mereka mengalami gejala mual, muntah hingga pusing setelah mengonsumsi menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, berupa nasi putih, orak arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel, pada Selasa (1/9) siang.

Hingga Kamis (4/9) siang, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat, jumlah korban keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo mencapai 748 orang. Sebanyak 20 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 728 sisanya sudah boleh pulang dan rawat jalan.

(frd/isn)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |