Gelar Griya

1 day ago 4
Gelar Griya Abdul Mu’ti Mendikdasmen RI Sekum PP Muhammadiyah(MI/Seno)

SETELAH menunaikan salat Idul Fitri, umat Islam dan masyarakat pada umumnya menggelar tradisi gelar griya atau lazim disebut open house. Tradisi ini merupakan ekspresi sukacita dan syukur setelah menunaikan ibadah Ramadan.

Gelar griya tidak hanya dilakukan umat Islam. Pemeluk agama lain juga menggelar gelar griya. Hal itu menunjukkan bagaimana Idul Fitri telah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Dalam konteks dakwah, gelar griya menunjukkan bahwa dengan menghadirkan kerahmatan dan keramahan, ajaran dan nilai-nilai Islam dapat diterima dengan baik. Islam menjadi sumber ajaran dan nilai yang mempersatukan dan kehidupan yang damai.

Saat gelar griya, masyarakat saling mengunjungi, bermaafan, dan menikmati hidangan khas daerah atau khas tuan rumah. Gelar griya adalah sarana mencairkan hubungan yang membeku atau ikatan yang terputus. Islam mengajarkan agar manusia bersilaturahim untuk menjalin persahabatan dan menghentikan permusuhan. Sesuai hadis Nabi, dengan silaturahim rezeki lapang dan umur panjang. Nabi bersabda: “Manusia yang utama adalah mereka yang panjang usia dan banyak beramal kebajikan.”

Gelar griya mencerminkan budaya luhur memuliakan tamu. Dalam sebuah riwayat hadis disebutkan bahwa rumah yang baik adalah rumah yang luas dan banyak tamu. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamu.”

Gelar griya adalah ekspresi hati yang lapang (open heart) dan pikiran yang terang (open mind). Berhati lapang adalah pertanda manusia yang berjiwa besar. Dengan jiwa besar itu manusia akan membukakan pintu dan memberi maaf kepada siapa pun yang telah berbuat salah, berapa pun kadarnya, sadar atau tidak sadar.

Dengan merujuk pada Surat Ali Imran (3): 134, M Quraish Shihab menjelaskan bahwa maaf itu sudah seharusnya diberikan sebelum orang lain--yang bersalah--memintanya. Memaafkan merupakan karakter dan perbuatan manusia yang bertakwa. "Dan memaafkan itu akan lebih mendekatkan kepada takwa," (QS Al-Baqarah [2]:237). Dengan memaafkan, manusia menghapus luka, dosa, dan kesalahan di masa lalu. Memaafkan itu seperti 'write off' dalam perbankan, yaitu ketika semua utang dihapus agar bank lebih sehat.

Dalam interaksi sosial, memaafkan akan membuat relasi semakin baik dan ikatan semakin kuat. Di dalam Al-Qur’an QS An-Nur (24): 22 disebutkan kata maaf (al-afw) diikuti kata berlapang dada (yasfahu). Berlapang dada dan memaafkan ada dua sisi dari satu mata uang.

Meskipun demikian, memaafkan saja tidak cukup. Menurut M Quraish Shihab (1998), setelah memaafkan, manusia harus membuka lembaran baru. Ia menafsirkan safaha sebagai lembaran (suhuf) yang dengannya manusia melupakan masa lalu dan menuliskan masa depan yang lebih baik. Islam mengajarkan agar manusia belajar dari masa lalu untuk masa depan yang gemilang (QS Al-Hasyr [59]: 18).

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |