Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah bangunan bekas sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur roboh pada Rabu (18/3), menewaskan seorang pelajar akibat tertimbun dan dua lainnya mengalami luka.
Kapolres TTS, AKBP. Hendra Dorizen mengatakan bangunan yang ambruk adalah bekas Sekolah Dasar Inpres Oepula yang terletak di Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat.
"Sudah tidak digunakan sejak 2023 roboh dan menelan korban jiwa," kata Hendra Dorizen melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (19/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan insiden tersebut terjadi sekitar pukul 18.43 WITA. Saat kejadian, sejumlah anak tengah bermain di sekitar lokasi sekolah.
"Bangunan tersebut memang sudah tidak difungsikan untuk kegiatan belajar mengajar sejak tahun 2023. Namun, sering digunakan anak-anak untuk bermain," jelasnya.
Dorize menerangkan korban meninggal dunia bernama Noldi Kause (9), seorang pelajar kelas 1 SD yang tertimpa reruntuhan tiang bangunan pada bagian kepala.
"Korban tewas Noldi Kause (9), siswa kelas 1 SD karena tertimpa tiang dan material bangunan pada kepala. Ada pun korban lainnya, Juliana Nenohai (13) dengan luka serius di kepala dan lutut, juga Mikael Jekson Nenoliu (9) yang terluka pada bagian kaki dan punggung," ujarnya
Berdasarkan keterangan saksi ,kata Dorizen, peristiwa bermula saat anak-anak bermain sepak bola di halaman sekolah. Karena cuaca gerimis, mereka berteduh di bawah bangunan tua tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara dentuman keras sebelum bangunan ambruk.
Warga yang berada di sekitar lokasi langsung memberikan pertolongan dan mengevakuasi para korban dari reruntuhan. Salah satu korban luka berat segera dilarikan ke RSUD Soe untuk mendapatkan penanganan medis.
Dari hasil penyelidikan penyelidikan diduga bangunan roboh akibat kondisi yang sudah lapuk dimakan usia.
"Karena bangunan tersebut diketahui telah berdiri sejak tahun 1991 dan tidak lagi layak digunakan sehingga sejak 2023 para siswa sudah tidak menempati sekolah tersebut dan pindah ke gedung baru," ujarnya.
"Ini menjadi perhatian bersama, baik pihak sekolah maupun masyarakat, agar lebih waspada terhadap bangunan tua yang berpotensi membahayakan, terutama bagi anak-anak," imbuh Dorizen.
Dia pun mengingatkan peristiwa ini bisa menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap fasilitas umum yang sudah tidak layak pakai, guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
(eli/wis)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
3
















































