loading...
Mayoritas pakar militer ternama menyimpulkan Iran sebagai pemenang perang melawan Amerika Serikat. Foto/Doha Institute
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menggembar-gemborkan kesepakatannya yang mengakhiri perang dengan Iran sebagai "kesepakatan hebat". Banyak yang mempertanyakan apakah harga perang hampir empat bulan di Timur Tengah terlalu tinggi dan apakah AS benar-benar telah keluar sebagai pemenang.
AS menetapkan beberapa tujuan ketika bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Mereka berhasil mengalahkan kekuatan militer konvensional Iran. Tetapi mereka tidak sepenuhnya mencapai tujuan lain yang dinyatakan Gedung Putih: menghilangkan ancaman senjata nuklir Iran, perubahan rezim, membongkar dukungan Teheran untuk kelompok proksi, dan melenyapkan kapasitas rudal balistiknya.
Baca Juga: Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Dengan hubungan Amerika dengan sekutu utamanya; Israel, yang memburuk, 13 anggota militer AS tewas, miliaran dolar dihabiskan, dan persediaan senjata terkuras, gambaran tersebut menjadi rumit.
Dalam perang, selalu ada interpretasi yang berbeda tentang hasilnya. Sebanyak 10 pakar militer ternama angkat bicara tentang pihak mana yang pada akhirnya keluar sebagai menang perang. Dalam wawancara dengan Newsweek, yang diterbitkan Jumat (19/6/2026), jawaban yang mereka berikan tidak seragam, tetapi dua tema muncul: rezim Iran bertahan, memberikannya kemenangan strategis, dan AS mencapai tujuan militer yang signifikan meskipun gagal secara politik dan strategis.
Penilaian 10 Pakar Militer soal Pemenang Perang AS vs Iran
1. Burcu Ozcelik, Pakar dari Royal United Services Institute (RUSI)
•Pemenang Perang: Iran
"Tidak ada kemenangan yang berarti bagi rakyat Iran biasa, bagi stabilitas regional, atau bagi strategi AS," katanya.
"Para pemimpin Iran—para pewaris, perampas kekuasaan, dan tokoh-tokoh warisan yang telah mendominasi jajaran atas negara sejak 28 Februari—adalah pemenangnya. Tragisnya, pemenangnya bukanlah para reformis Iran, pembela hak asasi manusia, atau aktivis masyarakat sipil, yang telah mempertaruhkan nyawa mereka di jalan-jalan Teheran selama bertahun-tahun protes dan penindasan," paparnya.
"Perang telah melemahkan Iran secara militer dan memperdalam kesulitan ekonomi negara. Tetapi perang juga telah memperkuat posisi mereka yang berada di dalam sistem yang berkembang pesat melalui politik pengepungan, pengamanan, dan argumen bahwa hanya pusat rezim yang keras yang dapat melindungi negara dari ancaman eksternal," terangnya.
"Washington pun tidak dapat mengeklaim kemenangan yang bersih. Musuh-musuh Amerika, terutama China dan Rusia, akan melihat perang ini sebagai bukti lebih lanjut bahwa strategi besar AS sedang tegang dan kredibilitasnya menurun. Bahkan ketika AS masih dapat memproyeksikan kekuatan militer yang luar biasa, kemampuannya untuk menerjemahkan kekuatan menjadi hasil politik yang berkelanjutan telah mengalami tekanan yang tak terbantahkan."
"Jadi jawabannya tidak nyaman: tidak ada kemenangan yang berarti bagi rakyat Iran biasa, bagi stabilitas regional, atau bagi strategi AS. Pemenang langsungnya adalah para pemegang kekuasaan di Iran—dan penerima manfaat yang lebih luas adalah musuh-musuh Amerika yang hanya menonton dari pinggir lapangan," imbuh Ozcelik.
2. Melanie Garson, Profesor University College London
•Pemenang Perang: Iran
"Secara sepintas, lebih mudah bagi mereka untuk mengeklaim bahwa mereka lebih sukses secara strategis karena, menurut pandangan mereka, telah mempertahankan diri dari agresi," katanya.
"Secara sepintas, tanpa penilaian yang jelas tentang kemampuan militer Iran saat ini atau gambaran lengkap tentang kerugian ekonomi mereka, lebih mudah bagi mereka untuk mengeklaim bahwa mereka lebih sukses secara strategis karena, menurut pandangan mereka, telah mempertahankan diri dari agresi dan menunjukkan kemampuan mereka untuk menyerang negara tetangga dan menciptakan titik penghambat yang signifikan secara global, mengamankan kesepakatan untuk dana rekonstruksi, pelonggaran sanksi dan pembebasan aset yang disita, sebagai imbalan atas izin melewati Selat Hormuz, yang sebelumnya telah mereka izinkan, dan komitmen untuk menjauh dari narasi pengembangan kemampuan nuklir," paparnya.
"Rezim tersebut menunjukkan kemampuannya untuk bertahan dari ancaman eksternal dan internal, telah memformalkan kendalinya atas Lebanon sebagai bagian dari perjanjian, dan ketahanan hubungannya dengan China dan Rusia dengan intelijen dan intelijen perang elektromagnetik yang diterimanya," sambung Garson.
"Meskipun pengumuman AS mencoba untuk tetap fokus pada aspek nuklir sebagai tujuan utamanya, ada tantangan signifikan dalam implementasi perjanjian dalam jangka panjang yang akan mengharuskan AS untuk membuat konsesi lebih lanjut atau memberlakukan kembali sanksi. Meskipun demikian, AS telah menunjukkan komitmennya terhadap visi Timur Tengah dan kemitraan teknologi yang dirumuskan di awal pemerintahan," paparnya.
3. Jim Townsend, Mantan Pejabat Pentagon
•Pemenang Perang: Tidak ada seorang pun
"Ini adalah salah satu kasus dalam sejarah di mana semua orang gagal," katanya.
"Ini bukan pertanyaan tentang siapa yang menang, tetapi pada akhirnya, apakah kita lebih lemah atau lebih kuat karena perang ini. Pada akhir negosiasi yang akan datang, Iran mungkin akan lebih kuat mengingat kendali mereka atas Teluk, dan AS akan terlihat lebih lemah, bukan secara militer, tetapi secara geopolitik karena dunia melihat cara kacau pemerintahan AS dalam menjalankan perang, dan hasil yang minim dari upaya sebesar itu. Citra kita sebagai negara adidaya telah ternoda. Ini adalah salah satu kasus dalam sejarah di mana semua orang gagal," paparnya.
4. Michael O'Hanlon, Direktur Riset di Brookings Institute
•Pemenang Perang: Tidak ada seorang pun
"Pencapaian signifikan bagi kedua belah pihak—meskipun pencapaian AS yang paling penting mungkin terjadi tahun lalu dalam satu hari," katanya.


















































