Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah pusat melalui Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengawal pemanfaatan tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp144,67 miliar di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Pengawalan dilakukan agar anggaran tersebut dapat mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pengawasan dilakukan Tim Koordinator Wilayah Sumatera Barat Satgas PRR melalui rapat koordinasi bersama Bupati Solok dan jajaran perangkat daerah, yang dilanjutkan dengan peninjauan ke sejumlah lokasi terdampak bencana. Langkah itu bertujuan memastikan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program yang menjadi fokus meliputi pembangunan infrastruktur, hunian tetap (huntap), rehabilitasi lahan pertanian, hingga pemulihan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan penyediaan air bersih.
Kabupaten Solok diketahui telah menerima tambahan TKD 2026 secara penuh sebesar Rp144,67 miliar. Dari total anggaran tersebut, Rp2 miliar dialokasikan sebagai bantuan keuangan kepada Kabupaten Aceh Tengah.
Hingga pertengahan Juli 2026, realisasi anggaran tercatat mencapai 17,35 persen atau sekitar Rp25,09 miliar. Penyerapan terbesar berasal dari sektor ekonomi, sementara sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan masih dalam tahap percepatan setelah penyesuaian anggaran dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Perubahan rampung pada akhir Juni.
Pemerintah Kabupaten Solok menyatakan akan mempercepat pelaksanaan proyek-proyek prioritas agar serapan anggaran meningkat pada triwulan berjalan. Sejumlah proyek yang diprioritaskan antara lain pembangunan jalan, jembatan, jaringan irigasi, hunian tetap, serta fasilitas pelayanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana.
Selain memantau realisasi anggaran, Satgas PRR juga mencermati sejumlah pekerjaan yang masih membutuhkan percepatan.
Di sektor perumahan, lokasi pembangunan 180 unit hunian tetap telah ditetapkan sesuai Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk). Lahan pembangunan juga telah siap dan memperoleh persetujuan Badan Pertanahan Nasional (BPN), sehingga proses konstruksi diharapkan segera dimulai.
Di sektor pertanian, Pemkab Solok melaporkan sekitar 80 hektare sawah mengalami kerusakan berat akibat bencana. Sebanyak 16 hektare telah dibersihkan dari material sedimen, sedangkan 64 hektare lainnya diusulkan agar status kerusakannya dapat disesuaikan sehingga memenuhi syarat memperoleh bantuan rehabilitasi sawah dari Kementerian Pertanian.
Sementara itu, hasil peninjauan lapangan menunjukkan normalisasi Sungai Saniang Baka sepanjang sekitar 20 kilometer dan Sungai Batang Muaro Bungai sepanjang sekitar 15 kilometer masih menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko banjir dan sedimentasi.
Upaya rehabilitasi layanan dasar juga terus berlangsung, meliputi penanganan tujuh sistem penyediaan air minum (SPAM), rehabilitasi delapan sekolah terdampak, serta percepatan pemulihan berbagai infrastruktur publik.
"Satgas PRR memfasilitasi koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum/BBWS V untuk percepatan normalisasi sungai dan penguatan tebing. Satgas PRR juga memfasilitasi koordinasi dengan Kementerian Pertanian terkait percepatan penanganan lahan pertanian terdampak," tulis Tim Korwil Satgas PRR dalam laporannya.
(ory/ory)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
8

















































