Perempuan Penggerak Energi Bersih Jadi Kunci Transisi Energi Indonesia yang Inklusif

6 hours ago 4

loading...

Dalam pengembangan transisi energi ini, kebutuhannya tidak sekedar pemenuhan piranti teknis seperti teknologi, investasi, dan kebijakan tapi juga membutuhkan manusia, termasuk perempuan. Foto/Dok

JAKARTA - Indonesia sedang memasuki fase penting menuju sistem energi bersih . Berbagai pembangunan infrastruktur seperti pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan kendaraan listrik, pemanfaatan panas bumi, bioenergi, hingga berbagai program efisiensi energi terus didorong sebagai bagian dari agenda transisi energi.

Dalam pengembangan transisi energi ini, kebutuhannya tidak sekedar pemenuhan piranti teknis seperti teknologi, investasi, dan kebijakan tapi juga membutuhkan manusia, termasuk perempuan, yang bekerja di garis depan untuk mendorong perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan.

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Eniya Listiani Dewi, persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah sehingga pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia membutuhkan dukungan seluruh pihak.

“Hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi grafiknya naik turun. Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18.3%, sekarang terkoreksi sedikit," paparnya dalam sambutan acara Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026 di Jiexpo Kemayoran Jakarta, (3/9/2026).

Baca Juga: Pertamina Dorong Generasi Muda Pahami Strategi Pertumbuhan Ganda dan Transisi Energi

Lebih jauh, Eniya juga mengapresiasi para pihak yang ikut mendorong dan terlibat aktif baik itu individu maupun korporat yang memiliki komitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan. Bahkan pihaknya menyambut baik beberapa kampus yang juga terlibat dalam program tersebut.

“Di mana ada universitas atau perguruan tinggi, kita overlay dengan sebaran EBT, sehingga di titik mana nanti universitas mana harus jadi center of excellence dari PLTS misalnya,” tambah Eniya.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |