Perang Berlarut, Ekonomi Iran dan AS Sama-sama Babak Belur

9 hours ago 7

loading...

Beberapa kendaraan melintas di depan spanduk yang menampilkan potret Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 31 Agustus 2026. FOTO/AP

TEHERAN - Pemerintah Iran memperkuat langkah menghadapi tekanan ekonomi akibat perang dan sanksi Amerika Serikat (AS) dengan membentuk "Markas Perang Ekonomi" serta menaikkan harga bensin untuk konsumsi di atas 110 liter per bulan. Di sisi lain, konflik berkepanjangan tersebut juga menambah tekanan terhadap perekonomian AS melalui lonjakan harga energi, inflasi, dan meningkatnya biaya utang.

"Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pidatonya yang dipublikasikan melalui kanal Telegram dikutip dari The Straits Times, Selasa (8/9/2026).

Baca Juga: IRGC Klaim Rudal Iran Hantam Kapal Induk AS

Ghalibaf mengatakan selain menghadapi konflik militer, Iran kini berhadapan dengan "perang" di bidang ekonomi yang ditandai fluktuasi nilai tukar, inflasi, pengangguran, dan persoalan pengelolaan pasar. Ia meminta pemerintah bertindak cepat karena masyarakat, menurut dia, dapat menanggung kesulitan ekonomi, tetapi tidak dapat menerima salah urus dan kelambanan.

Sementara, Pemerintah Iran mengumumkan harga bensin untuk konsumsi di atas 110 liter per bulan naik dua kali lipat mulai Selasa (8/9/2026), dari 5.000 toman menjadi 10.000 toman per liter. Kebijakan tersebut ditempuh ketika upaya AS membatasi ekspor minyak Iran, akses valuta asing, dan jaringan perdagangan menekan penerimaan negara serta aktivitas ekonomi Teheran.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah akan merespons tekanan AS melalui reformasi dan menolak anggapan bahwa sanksi dapat memaksa Iran mengubah kebijakannya. Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Morteza Zamanian menyatakan "Markas Perang Ekonomi" akan mengidentifikasi gangguan akibat perang dan mempercepat penyelesaian masalah yang menyangkut dunia usaha, perdagangan, pembiayaan, perpajakan, kepabeanan, perbankan, dan instrumen keuangan.

Tekanan ekonomi juga dirasakan AS akibat perang yang kembali mengguncang pasar energi global. Harga Brent pada Senin (7/9) mendekati USD100 per barel dan sekitar 35% lebih tinggi dibandingkan akhir Februari, sementara harga diesel AS telah mencapai rekor dan sekitar 90% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, meningkatkan risiko inflasi di sektor transportasi, pelayaran, pertanian, dan manufaktur.

Kenaikan harga energi turut memperumit kebijakan moneter AS. Data ketenagakerjaan yang kuat menunjukkan ekonomi AS masih relatif tangguh, dengan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus dan tingkat pengangguran 4,1%, tetapi tekanan harga energi membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |