Penjelasan Menko Yusril soal Artikel di Buku 'Islam ala Prabowo'

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, mengaku tidak secara langsung terlibat menulis artikel yang dimuat dalam buku bunga rampai bertajuk Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam.

Buku yang resmi diluncurkan pada 26 Agustus 2025 itu mendapatkan perhatian publik setelah sampul, daftar isi, hingga deskripsi buku tersebut beredar luas di media sosial. Sejumlah warganet pun mempertanyakan pemilihan judul, hingga sejumlah nama tokoh yang terlibat dalam buku tersebut, termasuk nama Yusril.

Yusril menjelaskan artikel atas namanya dalam buku tersebut ditulis berdasarkan wawancara oleh tim penyusun buku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya. Setelah wawancara selesai, saya tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara sampai buku tersebut diterbitkan," kata Yusril dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/9).

Kini, ia mengaku telah membaca artikel tersebut dan merasa puas. Menurutnya, apa yang ia sampaikan dalam wawancara dengan tim penyusun, telah dituangkan dengan baik ke dalam tulisan di buku tersebut.

Yusril bahkan menegaskan wawancaranya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. 

"Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik," katanya.

Artikel atas nama Yusril dalam buku Islam ala Prabowo terletak di Bagian 1, halaman 2, yang mengulas tema Islam: Perdamaian dan Keadilan. Artikel atas nama Yusril tersebut diberi judul Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan.

Yusril mengatakan wawancara untuk buku itu dilakukan sebelum dirinya dilantik sebagai menteri Kabinet Merah Putih. Ia tidak lagi ingat sosok pewawancara.

"Saya sudah tidak ingat siapa yang mewawancarai saya. Saya juga tidak tahu apakah dia bagian dari tim penyusun atau tim yang menyiapkan bahan untuk buku itu. Saya tidak mengenalnya secara pribadi," ujarnya.

Lebih lanjut Yusril menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki peran dalam menggagas maupun membiayai penerbitan buku tersebut.

"Posisi saya dalam buku itu jelas sebagai orang yang diwawancarai. Saya bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya," tegasnya.

Terkait judul buku yang memicu perbincangan hingga perdebatan publik di media sosial, Yusril menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pemilihan judul tersebut.

"Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya 'Prabowo dan Islam', menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam," ujar Yusril.

Yusril menilai perdebatan mengenai buku tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang cenderung menilai isi dari judul tanpa membaca buku secara utuh.

"Sekarang orang cenderung tidak sabar membaca buku yang cukup panjang. Judulnya dibaca, lalu dianggap sudah mewakili seluruh isi buku. Setelah itu orang memberikan penilaian berdasarkan sudut pandangnya sendiri, bahkan tidak jarang berdasarkan kepentingannya sendiri," kata Yusril.

Karena itu, menurutnya, pemahaman terhadap keseluruhan isi dan konteks pembahasan penting agar penilaian yang diberikan tidak keluar dari substansi yang sebenarnya.

"Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan seksama," tutur Yusril.

Terkait pencantuman namanya dalam bagian hak cipta buku, Yusril mengatakan hal tersebut tidak pernah dibicarakan dengannya sebelumnya.

"Kalau saya disebut sebagai pemegang hak cipta, tentu perlu dilihat bagaimana konteksnya menurut UU Hak Cipta karena penulis dan bahan yang digunakan dalam buku itu banyak. Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya. Tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta," ujar
Yusril.

Buku Islam ala Prabowo diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Dalam keterangan BAZNAS dan pemberitaan saat peluncuran, penulisan buku tersebut disebut diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.

Buku dengan format bunga rampai ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas. Sementara itu, pada sampul buku tertera sejumlah tokoh yang memberikan kontribusi, seperti Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang menulis prolog dan tokoh ulama, Asep Saifuddin Chalim yang menulis epilog.

Selain mereka, nama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Abdul Mu'ti, Yusril Ihza Mahendra, serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah periode 2026-2031 Noor Achmad juga tercantum pada sampul buku.

(van/wis)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |