loading...
Kegiatan 2nd Training of Trainers for Forest Fire Suppression in Peatland yang diselenggarakan di Bogor dan Sumatera Selatan pada 13–24 April 2026. Acara ini melibatkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Kamboja. Foto/Dok. SindoN
BOGOR - Penguatan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih menjadi kunci utama dalam pengendalian kebakaran hutan , khususnya di kawasan gambut yang memiliki karakteristik kompleks dan berisiko tinggi. Hal tersebut disampaikan Wamenhut Rohmat Marzuki saat membuka kegiatan 2nd Training of Trainers for Forest Fire Suppression in Peatland yang diselenggarakan di Bogor dan Sumatera Selatan pada 13–24 April 2026, dengan melibatkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Kamboja.
Program pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif Forest Fire Management in Asia (FFMA) yang dikembangkan Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) bersama Kementerian Kehutanan. Program ini mendapat dukungan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, Korea Forest Service serta IPB University. Baca juga: Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG Ingatkan Potensi Lonjakan Hotspot Karhutla
“Pengelolaan kebakaran hutan yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan peralatan dan teknologi, tetapi harus ditopang oleh keterampilan serta kesiapan sumber daya manusia yang terlatih dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan,” kata Rohmat.
Menurut dia, pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas teknis sekaligus memperkuat koordinasi lintas negara dalam menghadapi kebakaran hutan yang bersifat regional. Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dan pertukaran praktik terbaik antarnegara di kawasan ASEAN.
“Selain meningkatkan kapasitas individu, pelatihan ini juga diharapkan dapat membangun jaringan pelatih regional (regional trainer network) yang mampu mereplikasi pengetahuan di masing-masing negara. Dengan demikian memperkuat sistem pelatihan dan kelembagaan pengendalian kebakaran gambut secara berkelanjutan serta memperluas jejaring regional,” imbuhnya.
Perwakilan International Tropical Peatlands Center (ITPC), Ayu Dewi Utari menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam pengelolaan gambut sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan. “Pengelolaan gambut untuk mencegah kebakaran hutan harus dilakukan secara terintegrasi melalui rewetting, revegetasi, dan revitalisasi ekonomi masyarakat dalam satu kesatuan hidrologi gambut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ayu menegaskan keberhasilan restorasi gambut sangat bergantung pada pendekatan yang menyeluruh dalam satu kesatuan hidrologi gambut (KHG). Menurut dia, restorasi yang dilakukan secara parsial tidak akan efektif dalam menjaga keseimbangan air di dalam ekosistem gambut dan berpotensi menyebabkan kekeringan yang memicu kebakaran gambut.


















































