loading...
Pakar militer sebut manuver Indonesia penuh risiko. Foto/X/@SecWar
JAKARTA - Pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Perang AS Pete Heghset yang nyaris bersamaan dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putih bisa dilihat sebagai manuver cantik di tengah menyempitnya ruang geopolitik.
Perang Iran menegaskan kembali persepsi menurunnya hegemoni AS. Walaupun AS tetap menjadi negara terkuat saat ini, tetepi perilakunya yang merusak tatanan dunia mempercepat perubahan geopolitik. Dunia ke ke depan akan dipengaruhi oleh beberapa kekuatan besar dengan aturan main yang berbeda dengan saat AS menjadi satu-satunya hegemon.
Beberapa kekuatan tersebut yang berada di Asia-Pasifik diantaranya AS, China India, dan Jepang serta ditambah Rusia dan NATO. Indonesia yang berada di tengah persilangan geopolitik, apalagi dekat dengan Laut China Selatan yang diperkirakan rentan menjadi titik konflik di masa depan tentu perlu mengambil kesempatan. Tetapi Indonesia juga harus berhati-hati karena pastinya semua kekuatan di atas akan berebut pengaruh bahkan bisa berkonflik di kawasan Asia-Pasifik.
Pertanyaannya, bagaimana Indonesia mengambil manfaat dan menghindar untuk dimanfaatkan berlebihan dalam dunia dengan tatanan yang baru ini ? "Pertama dengan Russia, kerja sama energi tentunya menjamin stabilitas keamanan energi Indonesia ke depan. Namun yang juga strategis adalah kerja sama membangun tenaga nuklir dan antariksa. Dua hal ini di sisi lain tentunya akan menimbulkan kekhawatiran di regional, apa keinginan Indonesia dengan agendaagenda yang progresif ini," kata Edna Caroline, co founder Indonesia Strategic & Defence Studies (ISDS), dalam pernyataan yang dikirim ke SindoNews.
Hal ini yang kemudian diantisipasi dengan kunjungan dan kerja sama Pertahanan antara RI dan AS. Dengan kata lain, Indonesia menunjukkan sinyal politik Internasional, bahwa politik bebas aktif tetap dilakukan dengan bekerja sama dengan Rusia, tetapi juga dengan AS. Ada kepentingan AS di kawasan yang juga diakomodir Indonesia. "Dari berbagai agenda kerja sama pertahanan RI-AS, yang menunjukkan penekanan pada kepentingan AS adalah exercise dan operational cooperation," kataEdna Caroline, yang dikenal sebagai pakar militer.

















































