Nestapa Ibu Hamil di Tapsel Ditandu 6 Jam, Bobby Nasution Buka Suara

10 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang ibu hamil asal Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Tuty Daulay (20), harus ditandu belasan warga selama lebih dari enam jam melewati jalan setapak menuju fasilitas kesehatan karena akses jalan di desanya tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

Peristiwa itu terjadi saat Tuty yang hendak melahirkan harus dirujuk dari Desa Dalihan Natolu, menuju rumah sakit dengan jarak sekitar 30 kilometer. Namun, keterbatasan infrastruktur membuat proses evakuasi hanya bisa dilakukan secara manual menggunakan tandu, melewati medan yang sulit dan jalan yang sempit.

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak sejumlah warga bergantian memikul tandu yang membawa Tuty menyusuri jalan setapak di tengah kawasan perbukitan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, Tuty akhirnya tiba di rumah sakit. Namun nahas, bayinya dinyatakan meninggal dunia dalam kandungan. Sementara itu, kondisi Tuty dilaporkan selamat dan kini dalam penanganan tim medis.

Menanggapi hal itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut akan mempercepat program peningkatan puskesmas rawat inap di daerah terpencil, menyusul peristiwa seorang ibu hamil di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang harus ditandu sejauh 30 kilometer selama enam jam akibat akses jalan rusak dan jauhnya fasilitas kesehatan.

"Kami dari provinsi menyampaikan belasungkawa atas kejadian ini. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat lebih mudah dijangkau," ujar Bobby, Selasa (12/5).

Menurut Bobby, persoalan utama di wilayah terpencil bukan hanya fasilitas kesehatan, tetapi juga akses infrastruktur menuju layanan kesehatan yang masih terbatas.

Karena itu, Pemprov Sumut mendorong peningkatan status puskesmas menjadi puskesmas rawat inap, khususnya di daerah yang memiliki jarak lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit.

"Puskesmas yang jaraknya lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit kita dorong menjadi puskesmas rawat inap. Program ini sudah kita siapkan dan dipercepat mulai tahun ini," katanya.

Bobby menjelaskan, Pemprov Sumut telah meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan pengecekan terhadap standar fasilitas puskesmas di masing-masing daerah.

Menurutnya, apabila standar pelayanan telah terpenuhi, Pemprov Sumut siap memberikan dukungan anggaran untuk peningkatan fasilitas dan layanan kesehatan.

"Standarnya sudah ada. Ketika sudah memenuhi standar, pemerintah provinsi akan membantu agar puskesmas tersebut bisa menjadi puskesmas rawat inap," ujarnya.

Ia mengatakan program peningkatan puskesmas rawat inap sebelumnya direncanakan dimulai pada 2027. Namun, pelaksanaannya dipercepat tahun ini setelah adanya dukungan bantuan pemerintah pusat.

"Awalnya direncanakan mulai 2027, tetapi kita percepat tahun ini karena ada dukungan bantuan dari pemerintah pusat," kata Bobby.

Selain program peningkatan layanan kesehatan, Pemprov Sumut juga terus mendorong percepatan perbaikan infrastruktur jalan menuju wilayah terpencil agar akses masyarakat terhadap layanan kesehatan menjadi lebih mudah dan cepat.

Bobby menegaskan, Pemprov Sumut telah menyiapkan dukungan pembiayaan untuk membantu kabupaten/kota, namun realisasinya tetap memerlukan pengajuan dari pemerintah daerah setempat.

"Kita bukan hanya mendorong programnya, tetapi juga menyiapkan dukungan keuangannya. Tinggal bagaimana kabupaten dan kota mengajukan sesuai kebutuhan daerahnya," pungkasnya. 

(fnr/gil)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |