Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Dibenci AS

6 hours ago 4

loading...

Ayatollah Mojtaba Khamenei ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Dia merupakan sosok yang dibenci AS. Foto/Tasnim News

TEHERAN - Putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, telah dipilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai pemimpin tertinggi menggantikan almarhum ayahnya. Penunjukan Mojtaba sebagai tanda bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh atas negara Islam tersebut.

Mojtaba, ulama berusia 56 tahun, selamat dari serangan udara Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran pada 28 Februari lalu—serangan yang menewaskan ayah dan beberapa kerabatnya.

Baca Juga: Mojtaba Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump: Dia Harus Dapat Persetujuan AS, Jika Tidak...

Seorang anggota majelis, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan dalam sebuah video pada hari Minggu bahwa seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus "dibenci oleh musuh".

“Bahkan Setan Besar (Amerika Serikat) pun menyebut namanya,” kata Heidari Alekasir tentang penerus yang terpilih, beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Mojtaba adalah pilihan yang “tidak dapat diterima” baginya, sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (9/3/2026).

Istilah "Setan Besar" sudah populer di Iran untuk ditujukan kepada AS. Sedangkan Israel disebut sebagai "Setan Kecil".

Mojtaba mengumpulkan kekuasaan di bawah ayahnya sebagai tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. Dia menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat dalam upaya mereka untuk mengekang program nuklir Iran.

Hubungan dekatnya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berpengaruh memberinya pengaruh tambahan di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran, dan dia telah membangun pengaruh di balik layar sebagai “penjaga gerbang” ayahnya, kata sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Pemimpin tertinggi memiliki keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran. Kekuatan Barat ingin mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir—klaim yang berkali-kali dibantah Iran dengan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.

Mojtaba mungkin menghadapi penentangan dari warga Iran yang telah menunjukkan kesiapan mereka untuk menggelar protes massal guna menekan tuntutan mereka akan kebebasan yang lebih besar meskipun terjadi penindakan berdarah oleh pihak berwenang.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |