loading...
Peradaban besar Persia (sekarang Iran) telah menjalin ikatan batin dan politik yang sangat kuat dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara sejak 1.300 tahun lalu. Di antaranya peninggalannya berupa tradisi Tabot di Bengkulu. Foto/Ist
SELAMAini, narasi sejarah kita sering kali terpaku pada dominasi pengaruh Arab, India, dan China. Namun, jarang yang menyadari bahwa ribuan kilometer di barat, sebuah peradaban besar bernama Persia (sekarang Iran ) telah menjalin ikatan batin dan politik yang sangat kuat dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Bukan sekadar singgah untuk berdagang, para saudagar dan ulama dari tanah para Syah ini ternyata ikut merumuskan tata negara, bahasa, hingga tradisi yang kita anggap sebagai "asli" Indonesia hari ini. Penelusuran SindoNews mengungkap bahwa jejak ini telah tertanam sejak lebih dari 1.300 tahun yang lalu.
Fajar Hubungan: Era Jalur Sutra Laut (674 M–1000 M)
Hubungan ini tidak dimulai di era Kesultanan Islam, melainkan jauh sebelumnya saat pengaruh Buddha dan Hindu masih dominan. Data dari kronik Dinasti Tang menyebutkan bahwa pada tahun 674 M, pemukiman pedagang Arab dan Persia (Ta-shih dan Po-sse) sudah terlihat di pesisir barat Sumatera.
Baca juga: Ibnu Batutah, Saksi Kebesaran Kerajaan Islam Samudera Pasai
Pada masa Kerajaan Sriwijaya, kapal-kapal Persia dari Teluk Persia (Siraf dan Hormuz) telah menjadikan Palembang sebagai pelabuhan transito utama. Mereka membawa air mawar, mutiara, dan karpet untuk ditukar dengan emas dan kapur barus kualitas tertinggi dari Barus. Penemuan arkeologis berupa pecahan keramik pirus asal Persia di situs Bongal, Tapanuli Tengah, menjadi saksi bisu betapa sibuknya jalur ini di abad ke-7 hingga ke-9.
Puncak Intelektual: Samudera Pasai dan Napas Shiraz (Abad 13-14 M)
Memasuki abad ke-13, hubungan ini bergeser dari sekadar ekonomi menjadi pertukaran ideologi dan politik. Kesultanan Samudera Pasai menjadi magnet bagi kaum intelektual Persia.


















































