Jakarta, CNN Indonesia --
Suasana SDN Gentan, Seyegan, Sleman, pagi itu terasa sangat hangat saat pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai. Anak-anak berbaris tertib di depan kelas, lalu kembali ke meja masing-masing membawa hidangan yang sama.
Di sela obrolan dan tawa kecil, semua siswa menikmati menu yang sama, menciptakan momen kebersamaan sederhana penuh makna.
Dari suasana itulah, Rosi Doniyati, orang tua salah seorang murid di SDN Gentan, menangkap makna paling penting dari program MBG. Baginya, kesempatan seluruh anak memperoleh makanan bergizi secara setara merupakan hal yang patut dijaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rosi mengatakan seluruh anak tetap memiliki perasaan yang sama meski berasal dari kondisi sosial atau ekonomi keluarga yang berbeda. Karena itu, pemberian MBG kepada semua siswa dinilai penting agar tidak ada yang merasa ditinggalkan.
"Meskipun itu kaya atau miskin, mampu atau tidak, tetap dapat semua," katanya.
Rosi juga menilai makanan yang diberikan telah membantu memenuhi kebutuhan gizi anak. Menurutnya, menu yang diterima sudah mencakup unsur makanan bergizi seimbang.
Bagi Rosi, perubahan baik dapat dimulai dari hal sederhana yang dirasakan langsung oleh masyarakat. MBG menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar anak-anak memiliki akses setara untuk berkembang, sejalan dengan semangat kemerdekaan yang dirasakan seluruh warga tanpa terkecuali.
Hal senada diungkap Is Hartati, orang tua salah seorang murid kelas V di SDN Gentan. Hartati mengatakan makna paling penting dari program MBG adalah kesempatan bagi seluruh anak untuk memperoleh makanan bergizi secara setara.
Suasana SDN Gentan, Seyegan, Sleman pagi itu terasa sangat hangat saat pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai. (CNN Indonesia/Tunggul)
Selain menghadirkan rasa keadilan bagi anak-anak, Hartati merasakan MBG juga membantu para orang tua yang tidak selalu memiliki waktu menyiapkan bekal setiap hari.
"Apalagi anak-anak, kalau yang satu enggak dikasih, satu dikasih kan ada kecemburuan. Kalau menurut saya harus disamaratakan semuanya. Sangat membantu banget lah untuk ibu-ibu di rumah. Yang seharusnya mereka sibuk mempersiapkan untuk bekal atau apa pun, ternyata dibantu oleh MBG ini," ujar Hartati.
Sementara itu, di SDN Gentan, Koordinator MBG Wihandoko Suko Lelono menyaksikan perubahan yang perlahan tumbuh sejak program MBG mulai diterapkan pada 18 Agustus 2025.
Kini, sebanyak 163 siswa menikmati manfaat program tersebut setiap hari sekolah. Baginya, MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima siswa, tetapi juga membentuk kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
Di dalam kelas, MBG menjadi ruang belajar. Sebelum menerima makanan, siswa dibiasakan mengantre dengan tertib. Ketika ada menu yang kurang disukai, mereka kerap saling berbagi dengan teman yang lebih menyukainya.
"Yang namanya kelas itu juga suatu keluarga, toh. Jadinya, mana yang kamu suka? Oh, ini aku suka, ini. Jadi membangun kebersamaan," tuturnya.
Menurut Wihandoko, kebiasaan sederhana tersebut mengajarkan anak-anak untuk saling menghargai dan berbagi, sekaligus mendukung proses belajar karena seluruh siswa memperoleh menu dan porsi yang sama dengan standar gizi yang telah diperhitungkan.
"Karena anak yang diterima semuanya sama, toh. Dan gizi yang layak, tentunya iya, karena itu sudah ditakar oleh ahli gizi," ucapnya.
Menurutnya, ketika kebutuhan dasar anak terpenuhi, mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman dan fokus.
Sebanyak 163 siswa menikmati manfaat program tersebut setiap hari sekolah di SDN Gentan. (CNN Indonesia/Tunggul)
Menghapus Kesenjangan
Makna kemerdekaan kini tak hanya diukur dari lepasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Tapi, kemerdekaan juga tercermin dari hadirnya kesempatan yang setara bagi setiap warga negara untuk hidup sehat, menempuh pendidikan, dan mengembangkan potensinya tanpa terkendala akses terhadap kebutuhan dasar.
Dengan semangat tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu langkah pemerintah untuk menjamin pemenuhan hak dasar anak Indonesia. Program ini dirancang agar setiap anak memperoleh akses terhadap makanan bergizi tanpa memandang latar belakang ekonomi, agama, wilayah tempat tinggal, maupun status sosial.
Melalui satu porsi makanan bergizi, pemerintah berupaya menghadirkan prinsip kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang bersekolah di kota besar maupun daerah terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh asupan gizi yang dibutuhkan guna menunjang pertumbuhan, kesehatan, dan proses belajar.
Program MBG juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan kualitas gizi yang selama ini masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi sejak usia dini, anak-anak Indonesia akan memiliki peluang yang lebih setara untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
Konsep 'MBG untuk Semua' ini menekankan bahwa akses terhadap makanan bergizi merupakan hak setiap anak Indonesia. Lewat program ini, pemerintah tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mengurangi kesenjangan antarmasyarakat sekaligus mendorong terwujudnya keadilan sosial.
Program MBG ini pun turut mengusung konsep 'tanpa sekat' yang menekankan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh akses yang sama terhadap makanan bergizi. Melalui pendekatan tersebut, program ini berupaya memastikan hak dasar anak dapat dinikmati secara setara di seluruh penjuru Indonesia.
Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah mengatakan wilayah Indonesia yang luas dan beragam penduduk, membuat akses serta pemenuhan gizi masyarakat menjadi tak seragam. Karenanya, Trubus mengamini program MBG ini membentuk sebuah keseragaman dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat.
Sepiring hidangan bergizi dalam program MBG menjadi simbol kebersamaan. (CNN Indonesia/Tunggul)
"Indonesia itu karena wilayahnya yang luas dan beragamnya ini, beragamnya penduduklah atau suku bangsanya gitu ya, itu kan cara melihat gizinya kan jadi berbeda-beda gitu.
"Nah, sekarang ada, ada gizi yang sifatnya nasional, makanya disebut (program MBG diselenggarakan oleh) Badan Gizi Nasional (BGN). Gizi nasional itulah menjadi standar, ada standar," kata Trubus kepada CNNIndonesia.com, Jumat (31/7).
Lebih dari sekadar penyediaan makanan, sepiring hidangan bergizi dalam program MBG juga menjadi simbol kebersamaan. Sebab, program ini mencerminkan semangat bahwa seluruh anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat dan menggapai masa depan yang lebih baik.
Simbol kebersamaan ini pun tercermin dalam setiap ompreng makanan bergizi yang diterima anak. Semua anak mendapatkan menu dengan isi yang sama dan seragam, tanpa membedakan kondisi ekonomi, asal daerah, latar belakang, maupun status sosial.
Trubus sepakat dengan simbol kebersamaan yang diwujudkan dalam program MBG yang merupakan program prioritas nasional dari Presiden Prabowo Subianto ini. Bahkan, kata Trubus, konsep gotong royong yang tertuang dalam dasar negara Indonesia, Pancasila.
"Iya, bisa (program MBG menjadi simbol kebersamaan), karena itu kan konsepnya sebenarnya gotong royong, sebenarnya itu Identitas gotong royong ya kalau ngomong jadi Pancasila. Pokoknya berbau Pancasila sebenarnya itu," tutur dia.
Dengan semangat itu, MBG tidak hanya diposisikan sebagai program penyediaan makanan bergizi. Tetapi juga sebagai bagian dari upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang lebih substansial, yakni menghadirkan kesetaraan kesempatan bagi seluruh anak Indonesia untuk tumbuh dan meraih masa depan yang lebih baik.
(kum/har)

2 hours ago
3














































