Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, meninggal dunia di usia 90 tahun pada hari ini, Senin (2/3).
Try mengembuskan napas terakhir pada pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.
Try meninggalkan istrinya, Tuti Sutiawati, yang merupakan seorang guru kelahiran Bandung. Keduanya dikaruniai 7 orang anak. Try dikenal luas sebagai tokoh militer yang kemudian menduduki jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari masa kecil dan sekolah, saya mengalami tiga zaman, yaitu zaman Belanda, zaman Jepang masuk, sampai awal revolusi," ujar Try saat menceritakan kisahnya pada 2015.
Lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur, Try Sutrisno mengaku pernah menjadi penjual air, loper koran untuk menyambung hidup.
Try mengenyam bangku sekolah pertama di Taman Siswa saat masih 10 tahun, tepatnya pada tahun 1945, saat ia duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar.
Karier militernya sudah dimulai ketika Try menjadi penyelidik dalam organisasi intelijen saat usianya baru menginjak 13 tahun.
Tahun 1956 menjadi titik awal resmi karier militernya ketika Try bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Pengalaman tempur pertamanya baru ia rasakan setahun kemudian, tepatnya pada 1957, saat diterjunkan ke medan perang melawan Pemberontakan PRRI.
Kemudian pada tahun 1961, Try menikah dengan Tuti Sutiawati dan dikaruniai 7 orang anak yang terdiri dari 4 orang putra dan 3 orang putri.
Perkenalan Try dengan Suharto terjadi pada masa Operasi Pembebasan Irian Barat tahun 1962. Saat itu, Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima.
Karier Try mulai menanjak pesat setelah ia terpilih menjadi Ajudan Presiden Suharto pada tahun 1974.
Pada tahun 1978, Try dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer XVI/Udayana. Hanya setahun berselang, ia kembali mendapat promosi sebagai Panglima Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya.
Lonjakan karier militer Try berlanjut dengan menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada 1985. Kemudian pada Juni 1986, Try diangkat menjadi Kasad menggantikan Jenderal TNI Rudhini.
Try hanya menjabat Kasad selama sekitar satu setengah tahun. Pasalnya, pada awal tahun 1988, ia kembali mendapat promosi, kali ini menjadi Panglima ABRI (Pangab) menggantikan Jenderal TNI L.B. Moerdani. Try menjabat posisi Panglima hingga 1993.
Pada tahun 1993, Try Sutrisno dipilih sebagai Wakil Presiden RI melalui Sidang Umum MPR masa bakti 1992 - 1997 mendampingi Soeharto. Kemudian pada tahun 1998 masa jabatan Try Sutrisno sebagai Wapres berakhir, ia lalu digantikan oleh BJ Habibie pada Sidang Umum MPR 1998.
(fam/har)

4 hours ago
1

















































