Jakarta, CNN Indonesia --
Desa Jambu, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mendapat julukan 'kampung sultan'. Deretan rumah besar dan mewah berdiri di balik perbukitan Wanareja.
Desa Jambu hanya memiliki satu akses jalan dari pusat Kecamatan Wanareja yang berjarak sekitar 24 kilometer atau satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Sementara desa itu berada sekitar 100 km dari pusat Kota Cilacap dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian ruas jalan menuju desa sudah beraspal halus. Namun, ada juga sebagian jalan yang rusak, terutama saat melintasi kawasan hutan pinus sebelum memasuki permukiman.
Meski berada di wilayah yang cukup terpencil, wajah permukiman Desa Jambu berbeda dengan kebanyakan desa lain di Cilacap. Rumah-rumah warga berdiri bertingkat dan megah layaknya kompleks perumahan di kota.
"Kalau dibandingkan dengan desa lain yang kategorinya kampung, memang beda. Rumahnya ada yang tingkat, mewah lah istilahnya. Orang-orang kabupaten juga kadang bilang, kok ini kayak rumah (anggota) dewan," kata Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Jambu, Enno Carsono, dikutip dari detikJateng.
Enno mengatakan mayoritas rumah-rumah di Desa Jambu bernilai Rp500 juta sampai Rp1 miliar. Menurutnya, julukan 'kampung sultan' untuk Desa Jambu muncul dari orang luar yang datang berkunjung ke desanya lalu membagikan video atau foto hasil jepretannya di media sosial.
"Ada mungkin YouTuber atau orang yang pertama kali jalan-jalan ke sini, lihat rumahnya kok beda dengan kampung lain. Dari situ mungkin muncul penyebutan kampung sultan," ujarnya.
Enno menyebut pembangunan rumah tingkat dan megah ini mulai berlangsung pada 2015 lalu ketika banyak warga desa yang merantau ke kota-kota besar, terutama Bandung, Jawa Barat.
Sebelumnya, hanya satu-dua rumah yang terlihat mencolok. Kini, deretan bangunan besar menjadi pemandangan yang lumrah di desa tersebut.
"Yang booming itu sekitar 2015 mulai dibangun. Tapi yang bangunan mewah-mewah itu sekitar 2020 ke sini. Kalau kampung di wilayah lain kan rumahnya selang-seling, ada kebun di antaranya. Kalau di sini kebetulan seperti kompleks di kota," katanya.
Perantau mengubah Desa Jambu
Di balik kemegahan rumah-rumah tersebut, terdapat kisah panjang perjuangan para perantau asal Desa Jambu.
Desa yang dihuni sekitar 3.400 penduduk itu memiliki tradisi merantau yang sangat kuat. Menurut Enno, sekitar 70 persen warganya memilih mencari penghidupan di luar daerah.
Para perantau tersebut tersebar di berbagai kota besar, seperti Bandung, Bogor, dan Jakarta. Namun, Bandung menjadi tujuan utama.
"Biasanya yang paling banyak ke Bandung. Misalnya dari 500 orang yang merantau, sekitar 400 orang di Bandung, sisanya tersebar di tempat lain," kata Enno.
Belakangan, sebagian warga juga mulai merantau ke wilayah timur seperti Kota Cilacap, Kebumen, hingga Purwokerto. Ada pula yang membuka usaha di kecamatan lain.
Sebelum tradisi merantau berkembang, sebagian besar warga Desa Jambu bekerja di sektor pertanian. Ada yang menjadi petani, peternak, buruh harian lepas, hingga kuli bangunan.
"Awalnya mungkin sekitar tahun 2000-an ada satu dua orang yang merantau ke Bandung atau Jakarta. Setelah beberapa lama terlihat usahanya sukses," kata Enno.
"Kemudian yang di kampung tanya-tanya, usahanya apa di sana. Banyak yang jualan sembako atau toko kelontong," jelasnya.
Membuka Toko Kelontong
Salah satu warga Desa Jambu, Taryono (61) pun menceritakan bagaimana tradisi merantau warga Desa Jambu mulai berkembang sejak sekitar tahun 1990-an. Para perantau ini berjualan sembako atau toko kelontong.
"Sekitar tahun 90-an lah sudah mulai anak-anak merantau. Awalnya ya jualan sembako, kelontongan," kata Taryono.
Taryono mengatakan pada awalnya para perantau tidak langsung membuka usaha sendiri. Mereka biasanya bekerja lebih dulu kepada orang lain untuk belajar berdagang.
"Mulanya kerja di orang lain dulu, sempat jadi karyawan. Tapi begitu sudah tahu caranya dagang, akhirnya buka sendiri di Bandung," ujarnya.
Lambat laun, usaha tersebut berkembang. Kini sebagian besar warga Desa Jambu diketahui membuka warung sembako di Bandung.
"Sekarang mayoritas orang Desa Jambu buka warung sembako. Merantaunya hampir semuanya ke Bandung," ungkapnya.
Taryono sendiri memiliki enam anak yang semuanya merantau sejak puluhan tahun lalu. Sebagian besar menetap di Bandung, sementara satu orang bekerja di Jakarta.
"Anak saya dari tahun 90 juga sudah mulai merantau semuanya, ada enam. Satu di Jakarta, sisanya di Bandung," katanya.
Kerja keras mereka di perantauan telah terlihat hasilnya. Anak-anaknya telah memiliki rumah sendiri di kota tempat mereka bekerja.
"Di sana sudah beli rumah sendiri. Di sini juga punya rumah. Tapi rumahnya yang besar justru di sini," ujarnya.
Taryono menyebut anak-anaknya sudah memiliki enam rumah yang dibangun di tanah milik keluarga di Desa Jambu.
"Total di sini sudah ada enam rumah, masing-masing anak punya satu," jelasnya.
Baca berita selengkapnya di sini.
(fra)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3

















































