
HARI Raya Idulfitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu umat muslim setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Selain sebagai hari kemenangan, Idulfitri juga identik dengan sajian makanan khas yang beragam dan lezat. Namun, di balik kelezatan makanan tersebut, penting untuk mengetahui kandungan gizi agar dapat menjaga kesehatan tubuh.
Ahli Gizi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Fahmy Arif Tsani menyampaikan makanan khas Idulfitri umumnya mengandung berbagai macam bahan yang memberikan nutrisi, tetapi juga berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
“Makanan khas lebaran cenderung tinggi kalori, gula, lemak, dan garam. Maka, penting untuk mengatur porsi dan mengonsumsi berbagai jenis makanan dengan pola makan yang seimbang,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Selasa (1/4).
Beberapa hidangan khas lebaran tersebut di antaranya opor ayam yang memiliki kandungan protein dari ayam serta lemak yang berasal dari santan kelapa. Walaupun makan ini nikmat, Fahmy mengatakan konsumsi opor ayam harus dibatasi karena memiliki kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi. “Varian bumbu-bumbu yang tinggi pada opor ayam, seperti santan yang berasal dari kelapa itu tinggi lemak jenuh atau sering yang disebut sebagai lemak jahat,” ucapnya.
Selanjutnya rendang khas Minang yang memiliki cita rasa pedas dan kaya rempah. Menurut Fahmy, rendang terbuat dari daging sapi yang memberikan sumber protein dan zat besi, proses pengolahannya yaitu dimasak dalam santan kelapa dengan bumbu rempah.
“Walau rendang memiliki kandungan protein dari daging sapi, tapi rendang juga memiliki varian bumbu yang beragam, sehingga mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi,” imbuhnya.
Selanjutnya, ada kue lebaran atau kue kering di antaranya nastar, kastangel, dan putri salju menjadi adat atau khas sajian untuk tamu saat Idulfitri. Kue kering khas lebaran tersebut, pada umumnya terbuat dari tepung terigu, mentega, gula, dan bahan pengisi seperti selai nanas atau kacang. Namun, kue kering ini memiliki kandungan kalori, gula, dan lemak.
“Satu buah nastar kalau dikonversi menjadi nasi atau roti itu tinggi kalorinya,” ucapnya.
Ia menyarankan saat lebaran perlu mengimbangi kandungan makanan dengan vitamin, serat, dan mineral, seperti menyediakan sayur dan buah. “Sajian lebaran itu rawan tinggi karbohidrat, lemak, dan rendah vitamin, mineralnya. Perlu dikampanyekan menyediakan sumber-sumber vitamin, mineral, dan serat,” tuturnya.
“Sehingga alternatif menyediakan snacking yang sehat tanpa menghilangkan opor ayam dan sebagainya, seperti menyediakan buah dan sayur,” pungkasnya. (M-2)