Surabaya, CNN Indonesia --
Gelombang aksi mahasiswa mengkritisi program pemerintah pusat yang dinilai salah arah kembali terjadi di Surabaya (Jawa Timur/Jatim) dan Makassar (Sulawesi Selatan/Sulsel), Rabu (24/6).
Sejumlah tuntutan mereka sampaikan baik dalam aksi di depan kantor pemda maupun DPRD setempat.
Demo di lokasi tersebut pun sempat memanas atau ricuh antara massa aksi dan aparat yang melakukan pengamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Surabaya, aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur memanas di depan Kantor Gubernur Jatim.
Massa membakar ban, memblokade Jalan Pahlawan, hingga terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian setelah dialog dengan perwakilan Pemprov Jatim berakhir buntu.
Sekretaris Umum PKC PMII Jatim, Abdur Razak, menyebut sekitar 500 mahasiswa terlibat dalam aksi tersebut. Sebelum berunjuk rasa, massa sempat mendatangi Taman Makam Pahlawan sebagai simbol kekecewaan terhadap pemerintah.
"Kami sudah merasa hari ini tidak bisa berbicara dengan pemerintah yang hidup, maka kami mengadukan semuanya kepada para pahlawan yang telah mendahului kita," kata Razak di sela aksi.
Aksi yang berlangsung sejak siang hari itu memanas sekitar pukul 15.30 WIB. Massa memberikan ultimatum lima menit kepada Pemprov Jatim untuk mengirimkan perwakilan yang dinilai berwenang mengambil keputusan.
Berdasrkan pantauan, Pemprov Jatim mengutus Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim, Isa Ansori. Namun karena Isa tidak dapat menjawab tuntutan mahasiswa, massa mendesak Sekretaris Daerah Provinsi turun langsung.
Saat itu, Isa menyampaikan pimpinan pemprov tersebut tidak dapat hadir di tengah massa aksi.
Sekitar pukul 16.00 WIB situasi kian tegang. Massa mencoba merangsek mendekati gerbang kantor gubernur hingga terjadi aksi saling dorong dengan aparat. Mahasiswa kemudian memblokade Jalan Pahlawan hingga arus lalu lintas lumpuh.
"Yang menemui memang ada, tetapi tidak punya otoritas terhadap tuntutan kami. Makanya kami memilih memblokade jalan untuk mencoba mendatangkan mereka, tetapi hasilnya nihil," katanya.
Dalam aksi ini, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan.
Tuntutan itu mulai dari evaluasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), penghentian pembangunan batalyon di lahan pertanian produktif, hingga penindakan tambang ilegal di Jatim.
"Kami juga membawa isu regional mengenai rusaknya lingkungan akibat industri pertambangan di Jawa Timur. Kami meminta dilakukan operasi besar-besaran untuk mencabut tambang yang tidak memiliki izin," tegasnya.
Massa akhirnya membubarkan diri setelah memblokade Jalan Pahlawan selama kurang lebih satu jam.
"Teman-teman sangat kecewa dan ada kemungkinan kami akan turun kembali. Untuk waktunya belum kami pastikan, nanti akan kami konsolidasikan lebih lanjut," tegas Razak.
Demo mahasiswa di Makassar
Di pulau lain, Mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Makassar unjuk rasa di kantor DPRD Sulawesi Selatan.
Demo itu sempat memanas setelah massa aksi terlibat bentrok dengan pihak kepolisian.
Dalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat, termasuk mendesak evaluasi total Kabinet Merah Putih serta menolak pelaksanaan Program MBG yang dinilai perlu dievaluasi menyeluruh melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kami menuntut presiden melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kabinet Merah Putih. Menteri dan pejabat negara yang tidak menunjukkan kompetensi, integritas, maupun kemampuan menjalankan amanah rakyat harus diganti dengan figur-figur profesional yang memiliki kapasitas, rekam jejak, dan komitmen terhadap pelayanan publik," kata koordinator aksi, Rabu siang tadi.
Situasi saat unjuk rasa itu memanas ketika sejumlah massa hendak membakar ban bekas. Petugas kepolisian yang berjaga merespons dengan mematikan api membakar ban bekas tersebut hingga terjadi aksi saling dorong.
"Pada saat massa aksi PMII kota makassar melakukan orasi bergantian pihak kepolisian datang untuk mematikan api sebagai simbol perjuangan yang dinyalakan oleh massa dan pihak kepolisian melakukan tindakan represif hingga terjadilah saling dorong mendorong," kata salah satu pengurus PMII Cabang Kota Makassar, Yudhoyono saat dikonfirmasi.
Yudhoyono menyebutkan sebanyak tiga kader PMII Kota Makassar sempat diamankan oleh petugas dan dibawa ke kantor Polrestabes Makassar untuk diperiksa.
Terpisah, Kabagops Polrestabes Makassar, AKBP Hari Harry F Aritonang mengatakan bahwa petugas hanya mematikan ban bekas yang dibakar massa aksi saat demo di DPRD Sulsel.
"Tadi kita hanya mengamankan ban yang hendak dibakar saja," kata Hari kepada CNNIndonesia.com.
Hari mengaku belum mengetahui pasti jika ada mahasiswa yang diamankan dalam kejadian tersebut.
"Tunggu dulu, saya cek dulu, setahu saya enggak ada (yang diamankan)," ujarnya.
(frd/mir/kid)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
9

















































