Berapa Liter Air untuk Satu Foto AI 80-an Anda?

8 hours ago 10

loading...

Tren mengubah foto menjadi 80an menggunakan AI memicu kontroversi terhadap dampak penggunaan AI dan lingkungan. Foto: ist

JAKARTA - Tren pembuatan gambar dan video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di media sosial kembali memicu perdebatan mengenai "ongkos ekologis" di balik kecanggihan teknologi ini.

Di tengah gegap gempita inovasi yang menawarkan kemudahan dan efisiensi, kekhawatiran publik akan ancaman krisis air dan lonjakan konsumsi listrik akibat operasional pusat data AI semakin mengemuka.

Berbagai informasi berseliweran di ruang publik, mulai dari proyeksi kekeringan yang mengerikan hingga bantahan dari para petinggi raksasa teknologi yang kerap menyebut isu lingkungan tersebut terlalu dibesar-besarkan. Jadi, mana yang benar?

Proyeksi PBB dan Tingginya Beban Inferensi

Berapa Liter Air untuk Satu Foto AI 80-an Anda?

Kekhawatiran akan besarnya konsumsi sumber daya AI bukanlah isapan jempol. Laporan Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (UNU-INWEH) pada Juni 2026 mengonfirmasi bahwa jejak air pusat data AI diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter per tahun pada 2030.

Angka ini secara riil setara dengan kebutuhan air domestik dasar seluruh 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara selama setahun.

Dari sisi kelistrikan, AI diprediksi akan menyedot 945 terawatt-jam (TWh), hampir tiga kali lipat konsumsi gabungan negara padat penduduk seperti Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria.

Laporan ini juga menggarisbawahi fakta krusial yang sering luput dari perhatian publik: 80 hingga 90 persen konsumsi energi AI justru tidak terjadi pada masa pelatihan model, melainkan pada tahap inferensi, yakni saat sistem beroperasi menjawab jutaan permintaan harian pengguna.

Konteks Lonjakan Air yang Hilang

Di ranah perdebatan lain, terdapat klaim valid yang sayangnya kerap kehilangan konteks waktu, seperti pernyataan bahwa kebutuhan air AI melonjak 129 persen.

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |