Karawang, CNN Indonesia --
Dalam serial manga asal Jepang One Piece, pada Arc Water Seven, ada istilah Aqua Laguna untuk menyebut sebuah badai dan pasang laut yang menjadi musibah tahunan bagi warga kota terapung Water Seven.
Saban tahun, Aqua Laguna akan menenggelamkan bagian bawah kota tersebut sehingga penduduk kota harus mencari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung.
Water Saven adalah kota terapung berbentuk segitiga, yang warganya dikenal ahli dalam membuat kapal bajak laut. Di ujung Arc, warga kota itu juga membuat kapal untuk Kru Mugiwara yang menjadi karakter utama serial manga tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aqua Laguna pada serial One Piece sebetulnya tak benar-benar fiksi. Kondisi geografis itu konon diadaptasi dari kota apung Venice di Italy, yang warganya tetap hidup dan mendapat mata pencaharian justru dari keterbatasan tempat tinggal mereka.
Namun, kurang 100 kilometer dari Ibu Kota Jakarta, ada Aqua Laguna versi lain yang telah melenyapkan ratusan rumah warga di Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang. Jauh dari keindahan kota apung Venice, salah satu dusun di Desa Cemarajaya itu bahkan nyaris terisolir karena tak bisa dilewati kendaraan bermotor.
Kondisi geografis
Tarwi terus menerus terkekeh menceritakan kondisi rumahnya yang kini hanya digunakan untuk buka warung kecil-kecilan.
Barangkali itu adalah ekspresi dari kegetiran yang ia lalui selama bertahun-tahun.
Rumah Tarwi berada di ujung dusun Pisangan, Desa Cemarajaya, yang lokasinya persis berada di bibir pantai. Satu-satunya yang menahan rumah Tarwi adalah tanggul batu laut yang tingginya bahkan hampir setengah rumah.
Namun, saat laut pasang, tanggul tak kuasa menahan sehingga ombak tetap akan menghantam bagian belakang rumah.
Lima tahun lalu, rumah Tarwi masih menghadap ke laut. Namun akibat abrasi, bangunan awal lenyap sehingga rumah kini berbalik membelakangi pantai.
Desain baru dibangun semi permanen dari sisa-sisa bangunan lama. Rumah Tarwi kini tersusun dari setengah bangunan batu bata dan anyaman bambu. Jika dilihat dari jarak 10 meter, rumah itu nyaris tenggelam.
Sementara, bagian pelataran kecil depan rumah ditutup rapat kayu dan terpal seadanya untuk melindungi warung dan bagian depan rumah dari ombak.
"Dulu ibu rumahnya gede ngadap ke situ, ke laut. Ini bikin lagi kecil-kecilan buat dagang doang," kata perempuan paruh baya itu.
Rumah Tarwi di Dusun Pisangan, Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang bertahan dari ancaman abrasi. (Foto: CNN Indonesia/Thohirin)
Tarwi bersama suami memang telah mendapat rumah baru dari program relokasi pemerintah Kabupaten Karawang. Rumah barunya berada di Dusun Sekong, yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Dusun Pisangan.
Namun, rumah itu hampir tak pernah ditempati. Dia memilih tinggal di rumah lamanya karena alasan mata pencaharian.
Tarwi membuka warung untuk para pemancing ikan di pantai laut Dusun Pisangan. Dia menjual kopi saset, pop mie, ciki-cikian, dan minuman kemasan lain.
Sesekali dia hanya akan pindah ke rumah relokasi, jika laut pasang dan ombak mulai memasuki rumah.
"Paling ibu yang ke situ kalau pasang [laut] gede, bapak yang nungguin di sini. Banyak yang mancing sih," katanya.
Tarwi duduk di warung kecilnya di bibir pantai Desa Cemarajaya, yang terancam hilang akibat abrasi dan kenaikan air laut. (Foto: CNN Indonesia/Febria Adha L)
Desa Cemarajaya adalah wilayah pesisir yang berada paling ujung utara Kabupaten Karawang. Dari Jakarta, jaraknya sekitar 90 kilometer dengan waktu tempuh 2,5 jam menaiki mobil. Dan dari pusat pemerintah daerah Kabupaten Karawang, hanya berjarak 40 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Desa Cemarjaya terdiri dari enam dusun yang empat di antaranya melewati sekitar 12 kilometer garis pantai di utara Pulau Jawa.
Masing-masing yakni Dusun Cemara 1 Utara, Cemara 1 Selatan, Cemara 2, Sekong, Pisangan, dan Mekarjaya.
Dusun Mekarjaya dan Pisangan menjadi yang terparah terdampak abrasi dan kenaikan air laut di Desa Cemarajaya.
Di Mekarjaya, hampir semua penduduknya kini telah direlokasi dan pindah. Bangunan rumah, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan yang dulu tegak berdiri, kini hampir tak tersisa.
Sejak setahun terakhir, akses kendaraan yang menghubungkan Dusun Mekarjaya dengan lima dusun lain sepanjang lebih dari 1 kilometer telah terputus karena terkikis abrasi dan tak pernah diperbaiki.
Saat ini hanya tersisa akses jalan tambak dari geotube. Itu pun hanya bisa dilewati ketika air surut. Sebab saat pasang, laut benar-benar merendam semua jalan, rumah, tempat ibadah, sekolah, hingga tempat pemakaman.
Sebagian warga Dusun Mekarjaya yang masih bertahan di sana harus memutar arah dengan jarak sangat jauh jika harus ke dusun lain di Cemarajaya.
Nasib siswa sekolah dari Dusun Mekarjaya tak kurang mengenaskan. Para siswa harus berjalan kaki pulang pergi melewati jalan tambak sepanjang lebih dari dari 1 kilometer untuk sampai di sekolah mereka di Dusun Pisangan.
Mayoritas warga Desa Cemarajaya memiliki mata pencaharian dengan membuka warung kecil-kecilan untuk para pemancing, menjadi karyawan tambak, dan sebagian kecil nelayan.
Warung adalah sisa-sisa masa kejayaan saat pantai itu masih menjadi destinasi wisata.
Warung Tarwi berada di ujung Dusun Pisangan dan berbatasan langsung dengan akses ke Dusun Mekarjaya, kerap menjadi perhentian siswa dari Mekarjaya untuk bersih-bersihdi tengah perjalanan 1 kilometer ke sekolah mereka.
Sialnya, berjalan kaki pun tak bisa terus menjadi solusi. Sebab, saat laut pasang, jalan tambak itu tak bisa dilalui sehingga mereka terpaksa harus meliburkan diri.
"Kalau pagi bisa lewat, karena airnya surut. Cuma baju sekolahnya tetap dibukain, soalnya basah. Nanti bilasnya di saya," ujar Tarwi.
"Pokoknya, mah, udah susah, lah," imbuhnya.
Satu-satunya jalan penghubung antara Dusun Mekarjaya dan Dusun Pisangan di Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang. Saat laut pasang, jalan ini tak bisa dilalui. (Foto: CNN Indonesia/Thohirin)
Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang memperkirakan 1-2 meter bibir pantai di sepanjang Desa Cemarajaya habis setiap tahunnya. Selain abrasi, kondisinya diperparah akibat subsidensi atau penurunan muka tanah.
Dan dalam 25 tahun terakhir, sekitar 85 hektare daratan atau garis pantai Desa Cemarajaya telah lenyap tergerus air laut. Tak ada lagi wisatawan yang sudi menengok desa ini.
Kepala Seksi Pelayanan Kantor Desa Cemarajaya, Eli Gusman Damanik mengungkap kini tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan sisa-sisa pantai dan daratan di Desa Cemarajaya.
"Dari dinas diperhitungkan per tahun sekitar per 1-2 meter habis bibir pantai tergerus abrasi itu," ujar Eli saat ditemui di kantornya, Selasa (2/6).
Upaya sementara yang bisa dilakukan pemerintah dan warga desa selama ini hanya membangun tanggul untuk menahan rob saat laut pasang. Tanggul itu dibuat semi permanen dari tumpukan batu di beberapa titik pantai yang berhadapan dengan rumah warga.
Namun, sejak dibuat sekitar 10 tahun lalu, kondisi tanggul yang awalnya dibangun untuk menahan abrasi, justru ikut jadi korban abrasi. Akibatnya, saat pasang, air laut tetap merendam jalan dan masuk ke rumah-rumah warga.
"Jadi, dari yang awal ketinggiannya tiga meter dari atas pasir sehingga bisa menghalangi ombak, sekarang ambles juga," kata Eli.
Penanaman bakau juga tak memiliki dampak signifikan di Desa Cemarajaya akibat subsidensi. Bakau tak cocok karena Desa Cemarajaya adalah tanah berpasir. Sedangkan, bakau hanya bisa ditanam di tanah berlumpur dan basah.
"Dia cocoknya di lumpur, biar dia bisa mengikat. Penanaman bibit mangrove ya hasilnya juga kurang memuaskan," katanya.
Di Desa Cemarajaya, banjir rob datang dua kali setiap antara Mei dan Juli. Di bulan-bulan itu, warga biasanya mulai bersiap untuk menyelamatkan perabotan dan barang elektronik.
Di saat itu lah, daratan dan garis pantai hampir tak tersisa. Desa Cemarajaya akan menjelma pemukiman di atas laut, karena lokasinya diapit tambak di bagian selatan dan laut jawa di bagian utara.
Proses relokasi
"Tut ... tut ... tut," bunyi token listrik itu terus mengganggu tidur siang Mak Kaci dengan cucunya, Rini.
Keduanya tengah berbaring di atas karpet ruang tamu rumah berukuran tak lebih dari 5x4 meter persegi. Kipas angin reot terus berputar di samping mereka. Siang itu, matahari memang tengah terik-teriknya.
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
11
















































