5 Mitos Soal Manfaat Bawang Putih Ini Masih Dipercaya

22 hours ago 4
5 Mitos Soal Manfaat Bawang Putih Ini Masih Dipercaya Ilustrasi(Freepik)

BAWANG putih sudah lama jadi bahan dapur favorit di seluruh dunia karena kemampuannya mengubah rasa hidangan jadi lebih istimewa. 

Aromanya yang kuat, rasanya yang khas, serta manfaat kesehatannya membuat bawang putih menonjol dibanding sayuran lainnya. 

Tidak heran kalau sejak zaman kuno, bawang putih sering disebut-sebut dalam cerita rakyat, terutama soal khasiat penyembuhannya. Di masa Yunani Kuno, saat makanan sering dijadikan sebagai obat, bawang putih dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Kini, sebagian dari mitos lama itu masih melekat di ingatan kolektif kita dan memengaruhi cara kita memandang bawang putih. Tapi, dari sekian banyak cerita yang beredar, mana yang benar-benar terbukti secara ilmiah?

Bawang putih memang kaya akan nutrisi, seperti kalium, seng, selenium, dan mangan. Ia juga dikenal memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan bisa membantu menurunkan kadar lemak darah. 

Tidak jarang, bawang putih disebut sebagai nutraceutical—makanan yang juga berfungsi sebagai obat. 

Sejumlah uji klinis membuktikan bahwa bawang putih punya potensi besar untuk membantu mengatasi berbagai penyakit, terutama yang berkaitan dengan kesehatan jantung. Tapi dalam banyak kasus, efeknya baru optimal jika dikombinasikan dengan obat atau terapi lain.

Singkatnya, bawang putih memang bermanfaat, tapi bukan obat ajaib yang bisa menyembuhkan segalanya seperti yang sering diceritakan dalam mitos. 

Bahkan kalau kamu tidak percaya bahwa bawang putih bisa membawa keberuntungan atau mengusir vampir, kamu mungkin akan terkejut melihat betapa banyak anggapan soal bawang putih yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan lama.

Berikut ini adalah lima mitos populer soal bawang putih yang sebaiknya mulai ditinggalkan:

1. Mitos: Makan Bawang Putih Bisa Mengusir Nyamuk

Secara logika, teori ini tampak masuk akal. Bawang putih punya sifat antiinflamasi yang baik untuk darah, dan nyamuk, seperti kita tahu, suka mengisap darah. 

Nyamuk juga dikenal tidak suka aroma menyengat dan bawang putih punya aroma yang sangat kuat. Tapi sayangnya, penelitian mengatakan sebaliknya.

Pada 2005, peneliti dari University of Connecticut melakukan sebuah eksperimen yang kemudian dilaporkan oleh The New York Times. Para partisipan diminta makan banyak bawang putih dan kemudian mengonsumsi plasebo sambil diekspos dengan nyamuk. Hasilnya? Tidak ada bukti bahwa makan bawang putih membuat mereka lebih kebal dari gigitan nyamuk. Meskipun napas bau bawang bisa menjauhkan manusia lain, sayangnya nyamuk tetap tak terganggu.

Namun, kabar baiknya: studi dalam jurnal Heliyon menemukan bahwa penggunaan bawang putih secara topikal, seperti disemprotkan ke pakaian, bisa mengusir nyamuk. 

Campuran bawang putih dan peppermint juga diketahui punya sifat antijamur yang kuat. Mungkin baunya menyengat, tapi nyamuk pun tak suka.

2. Mitos: Mengalungi Bawang Putih Bisa Mencegah Masuk Angin

“Konsumsi apel sehari sekali bisa menjauhkan dokter.” “Wortel baik untuk mata.” “Kalau demam, jangan makan.” Semua ini contoh mitos kesehatan yang sering kita dengar. Salah satunya menggantung atau mengenakan bawang putih untuk mencegah masuk angin.

Dalam cerita rakyat Eropa, bawang putih diyakini bisa menangkal roh jahat dari mata iblis sampai vampir dan manusia serigala. Karena itu, banyak rumah menggantungkan bawang putih di jendela, atau mengoleskannya di pintu dan cerobong asap. 

Dari situ, muncul kebiasaan mengenakan bawang putih sebagai "pelindung" tubuh dari kuman dan penyakit.

Namun, secara ilmiah, tidak ada bukti bahwa memakai bawang putih bisa mencegah masuk angin. Meski sifat antimikroba dan antivirus bawang putih sudah diteliti cukup luas, bahkan saat dikonsumsi, hasilnya tetap belum bisa disimpulkan. Jadi menggantungkan bawang putih di leher jelas bukan cara efektif menjaga kesehatan.

3. Mitos: Bawang Putih Bisa Menurunkan Berat Badan Secara Instan

Allicin, senyawa sulfur dalam bawang putih, dikenal bisa menekan nafsu makan dan meningkatkan metabolisme. Karena itu, ada anggapan bahwa mengonsumsi bawang putih bisa secara ajaib menurunkan berat badan.

Namun, penelitian tidak sepenuhnya mendukung klaim ini. Sebuah uji klinis acak yang dilaporkan di Frontiers in Nutrition menguji efek suplemen bawang putih terhadap berat badan selama dua bulan. 

Hasilnya memang menunjukkan sedikit perubahan pada mikrobiota usus dan penurunan indeks massa tubuh (BMI). Tapi perlu dicatat, kelompok yang diuji juga menjalani diet rendah kalori. Artinya, sulit menyimpulkan apakah efek penurunan berat badan berasal dari bawang putih, diet, atau kombinasi keduanya.

Jadi, sampai ada bukti tambahan, tidak ada jaminan bahwa bawang putih saja cukup untuk menurunkan berat badan. Meski begitu, memasukkan bawang putih ke dalam pola makan harian tetap baik karena kandungan gizinya yang tinggi.

4. Mitos: Menaruh Bawang Putih Utuh di Telinga Bisa Obati Infeksi

Infeksi telinga, terutama pada anak-anak, sering membuat orang tua mencoba berbagai pengobatan alami, termasuk bawang putih. Biasanya, bawang putih digunakan dalam bentuk minyak atau ekstrak yang diteteskan ke telinga. 

Ada juga yang percaya bahwa cukup memakan bawang putih sudah cukup untuk menyebarkan efek antibakterinya ke seluruh tubuh.

Namun, menaruh siung bawang putih utuh langsung ke dalam telinga adalah langkah yang sangat tidak disarankan. Banyak dokter memperingatkan bahwa hal ini bisa membahayakan, bahkan jika terlihat sebagai solusi alami.

Bawang putih bisa menyumbat liang telinga, merusak gendang telinga, menyebabkan iritasi atau infeksi tambahan. Apalagi, sangat kecil kemungkinannya siung bawang putih benar-benar menjangkau area yang terinfeksi. 

Untuk hasil yang efektif, bawang putih harus dikonsumsi secara oral atau diserap melalui darah dalam dosis tinggi bukan dimasukkan ke dalam telinga.

5. Mitos: Bawang Putih Bisa Menyembuhkan Jerawat

Pada 2024, tren kecantikan baru di media sosial mengajak orang untuk makan bawang putih mentah setiap hari demi mengatasi jerawat hormonal. Alasannya? Bawang putih bisa melawan peradangan, dan jerawat seringkali disebabkan oleh peradangan serta produksi sebum berlebih. Ditambah lagi, pola makan memang terbukti bisa memengaruhi kondisi kulit.

Meski terdengar masuk akal, belum ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa makan bawang putih bisa menyembuhkan jerawat secara langsung. Beberapa influencer kecantikan memang bersumpah bahwa metode ini berhasil, tapi para ahli kulit menekankan bahwa belum ada penelitian yang menguatkan klaim tersebut.

Lagi pula, makan bawang putih dalam jumlah banyak bisa menimbulkan efek samping seperti bau badan, mulut, dan gangguan pencernaan. Lebih parah lagi, mengoleskan bawang putih mentah langsung ke kulit bisa menyebabkan iritasi dan memperparah kondisi kulit.

Fakta lainnya, hingga kini penyebab pasti jerawat belum sepenuhnya dipahami. Jadi, mendapatkan tips perawatan kulit dari media sosial yang belum jelas sumbernya sebaiknya tidak dijadikan acuan utama. (Z-1)

Read Entire Article
Tekno | Hukum | | |